Portugis di Timor Loro Sae: Antara Protektorat dan Kolonial

Coat of arms of East Timor since 2007
description
Judul : 500 Tahun Timor Loro Sae
Penulis : Geoffrey C. Gunn/ Penerjemah : Nugroho Katjasungkana, dkk.
Penerbit : Sa’he Institute for Libration & Nagaki University/ Cetakan : I, Agustus 2005/ Tebal: 477 halaman/ Harga: 80.000,-
genre: History

 

DOKUMENTASI mengenai sejarah Timor Timur sudah banyak beredar, namun buku ini memaparkan sejarah Timor Leste dengan lebih lengkap. Dalam buku ini dibahas sejarah Timor berdasarkan sumber-sumber dan arsip-arsip berbahasa Eropa yang berhasil menyatukan beberapa pandangan mengenai Funu bangsa Timor, sebuah ciri ritual peperangan dan pengusiran orang asing khas bangsa Timor. Sejarah ternyata menunjukkan bahwa kasus penaklukan Timor tidak dapat disandingkan begitu saja dengan model klasik penaklukan kolonial seperti penaikan pajak dan mission civilitrize.

Buku ini memaparkan perjuangan rakyat Timor berjuang melawan tiga kekuatan kolonial sekaligus. Ekspansi kolonialisme Portugis pada tahun 1511, kemudian ditandai dengan perlawanan singkat orang Timor terhadap ekspansi Jepang (1942-1945) dan pengorbanan orang Timor untuk para Komando Australia yang pada akhirnya mengkhianatinya dengan seribu macam cara. Termasuk berpaling atau menutup mata terhadap perjuangan panjang rakyat Timor melawan Indonesia yang berlangsung selama 24 tahun.
Geoffrey C. Gunn, Profesor Hubungan Internasional di Fakultas Ekonomi, Universitas Nagasaki, Jepang ini juga memaparkan Timor dan kepulauan Flores-Solor lebih berfungsi sebagai pusat bisnis dari perdagangan musiman, terutama bagi perdagangan kayu cendana Timor yang termashur itu, yang dijalankan oleh orang-orang Cina, Makao, Portugis, dan bangsa-bangsa lain. Dari tahun 1500-an hingga abad ke-18, para kolonialis Belanda dan Portugis sudah cukup puas dengan mengumpulkan upeti dari orang Timor dengan imbalan janji kesetiaan. Namun, dengan suksesnya penerapan sistem perkebunan kopi oleh Gubernur de Castro pada tahun 1860-an, sistem pemerintahan kolonial Portugis menghadapi beberapa tantangan.
Tetapi, benarkah para pemberontak yang mencoba membebaskan Timor pada akhir abad ke-19 dan awal abad 20 semata karena mereka antipajak? Apakah pemberontakan besar Boaventura pada awal abad ke-20 telah membawa serta benih-benih nasionalisme Timor? Bisakah pemberontakan Boaventura dan serangkaian pemberotakan lain di Timor dipandang sebagai salah satu bentuk Funu orang Timor? Apakah kapitalisme kolonial Portugis di Timor meletakkan dasar-dasar bagi berjalannya sebuah negara? Selanjutnya, apakah model pemerintahan Portugis di Timor lebih tepat dikategorikan sebagai pemerintahan protektorat daripada pemerintahan kolonial? Bagaimana seharusnya kita memandang tradisi dan unsur-unsur pembentuk identitas bangsa Timor, mengingat begitu lamanya peran misionaris gereja Katolik di Timor. Buku ini memberi jawabannya. (Pusat Data Redaksi Pikiran Rakyat).

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 27, 2011, in Resensi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Apakah buku ini masih ada….(terjemahan bahasa Indonesia),
    klo masih ada…. saya mau pesan 1 buah… boleh konfirmasi ke alamat email; sfmiquelito29@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: