Jembatan Menu dan Fatuat, Buka Isolasi Indonesia Selatan

Dua jembatan yang dibangun pemerintah Jepang di Kecamatan Nunkolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) senilai hampir Rp80 miliar membuka isolasi tidak hanya wilayah selatan Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) tetapi juga kawasan selatan Indonesia.

Pembangunan jalan dan jembatan itu, selain meningkatkan pertumbuhan arus lalu lintas juga pertumbuhan ekonomi di wilayah Timor.

Pembangunan poros selatan Pulau Timor,  secara dominan akan membuka “aksesbilitas” kawasan dan mendorong masyarakat untuk melakukan aktivitas yang mendukung perekonomian.

Dengan perhatian terhadap pembangunan jalan dan jembatan, produk pertanian dan perikanan bisa terdistribusikan ke pasaran.

Sebelum pemerintah Jepang memutuskan untuk memenuhi permintaan dari pemerintah Kabupaten TTS yang disampaikan melalui Menteri PU, kali Menu dan Fatuat tidak bisa dilalui, namun kini setelah dua jembatan itu dibangun mobilisasi masyarakat dan transportasi dari dan ke wilayah itu lebih terbuka.

Dengan pembangunan dua jembatan itu, maka pemerintah tinggal membangun sekitar tiga jembatan lagi untuk menghubungkan seluruh kawasan selatan Pulau Timor yang terbentang mulai dari Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) hingga ke Kabupaten Belu yang berbatasan dengan negara Timor Leste.

Data yang diperoleh dari Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) NTT, panjang Jembatan Menu mencapai 260 meter dan lebar tujuh meter, terdiri atas enam meter lebar jalan dan trotoar di kiri dan kanan masing-masing setengah meter.

Sementara Jembatan Fatuat yang terletak sekitar 500 meter ke arah barat dari Jembatan Menu memiliki panjang 129,7 meter dengan lebar tujuh meter.

Kedua jembatan itu dibangun oleh kontraktor dari Jepang, “Hazama Corporation” dan konsultan, Katahira & Enggineers International Jepang.

Bupati Kabupaten TTS, Drs. Daniel Banunaek, kepada pers mengatakan, pemerintah kabupaten juga meminta Jepang untuk membangun bendungan untuk menaikkan permukaan air bawah tanah, agar kawasan itu selain dikembangkan untuk lahan basah, juga untuk perkebunan singkong dan tebu.

Bupati Banunaek mengatakan, pengembangan singkong dan tebu itu akan dijadikan bahan baku pembuatan etanol yang menurut rencana pabriknya akan dibangun di Kabupaten Belu yang berbatasan dengan TTS.

Dia mengaku, sudah ada investor yang menyatakan keinginannya untuk melakukan investasi bagi pengembangan ribuan hektar lahan potensial untuk singkong dan tebu, namun enggan menyebutkan nama investor tersebut.

Bupati Banunaek juga mengatakan, Agen Kerjasama Internasional Jepang (JICA) dan Hazama Corporation telah melakukan penghitungan jauh ke depan untuk pengembangan kawasan sekitar proyek, agar kehadiran kedua jembatan itu, memberikan sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi kawasan.

Sekretaris Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Takasi Muronaga pada kesempatan itu mengatakan, pemerintah dan rakyat Jepang berharap, pembangunan kedua jembatan itu bisa memperlancar transportasi antar-wilayah dan memberikan sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan itu. (*/lin)

 TAHUKAH ANDA apa yang terjadi setelah peresmian kedua jembatan tersebut? Orang beramai-ramai mengeruk batu hitam alias mangan. Sebuah tukar guling yang mantap. Orang-orang Jepang menggunakan proyek pembangunan jembatan sebagai sarana penelitian sumber alam pulau Timor. Dan sesudah itu mereka kembali lagi dan memborong kekayaan alam pulau Timor dengan harga yang sangat murah. Memang orang Indonesia masih terlalu bodoh hanya untuk sekedar mengetahui kandungan buminya sendiri. 

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Januari 14, 2012, in Ekonomi & Bisnis and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: