Jelajah Pantura Pulau Timor


Pulau Timor yang tandus dan gersang ternyata menyimpan keindahannya yang misterius hanya untuk seorang petualang sejati. Kau bisa menikmati keindahan pegunungan yang menjadi tapal batas pertempuran antara Indonesia dan Timor Leste di bagian antara Kabupaten Timor Tengah Utara dan District Oecusse.

Di sini sesudah melewati kota Kefamenanu yang terhimpit di antara pegunungan, kau boleh dengan leluasa mengamati hamparan hijau pegunungan serta sungai yang berkelok-kelok, hingga ke ujung barat, di mana ombak menghempas di hamparan pasir dan kerikil putih.

Pantai Wini, Insana Utara, TTU

Liburan tahun baru kali lalu aku beruntung mendapatkan kesempatan menjelajahi pantura pulau Timor. Suatu jelajah yang tak biasa mengingat proyek jalan raya ke sana tidak begitu menarik para kontraktor. Jalan raya mesti dibuat melingkari pegunungan dan melewati berbagai sungai dan anak sungai. Kendati demikian, toh jalan raya itu meskipun sangat sempit dan sulit dilewati kendaraan seperti fuso, toh akhirnya akses menuju pantura bisa diperoleh.

Aku dan seorang teman berangkat dengan sepeda motor, ala backpacker. Memasuki kota kefa yang sejuk, ketika orang-orang kristen masih khusyuk beribadah di gereja masing-masing. Praktisnya kota Kefa menjadi sepi seperti ditinggal penghuni. Hanya satu dua toko yang buka (saya tak sempat menghitung :)). Di daerah pasar lama, kami berbelanja sekedar untuk perbekalan. Perjalanan Kefa-Ponu dengan kondisi jalan raya yang pegunungan tentu memaksa kau mengerahkan tenaga ekstra joss.

di kota Kefamenanu

Dari kota Kefa, kami mendaki ke arah Tunbaba. Sebuah dataran tinggi di mana kau bisa dengan leluasa memandang ke arah perbukitan Sunu di bagian selatan TTS, atau ke arah pegunungan Ambenu-Oekusi.  Dari kawasan tinggi ini perjalanan berkelok menurun ke arah sungai di Bitefa. Airnya jernih, memercik di antara bebatuan raksasa berwarna hitam. Bukit-bukit sekeliling menghijau permai. Kebun-kebun yang baru saja ditanami jagung memperlihatkan deretan tumbuhan jagung yang berbaris rapi.

Dari Bitefa perjalanan kembali menajak ke arah Sunsea dan Bakitolas. Dua kampung bertetangga yang bertengger di lereng perbukitan. Kelapa, hutan bambu dan lagi-lagi riak air memercik di antara bebatuan. Aku lupa kalau aku sedang berada di pulau timor yang memang dikenal tandus dan gersang.

"bersih-bersih motor"

Di Bakitolas, pada sebuah kali kecil yang tak jadi dibangun jembatan. Alih-alih, air dibiarkan mengalir melalui perkerasan dari beton. Di sini, kami beristirahat sejenak, membuka bekal, dan membersihkan sepeda motor yang mulai dekil karena keciprat lumpur dan tanah sepanjang perjalanan tadi.

Di sini ada seorang bapak juga sedang sibuk mencuci sepeda motornya. RUpanya “jembatan” ini menjadi tempat bersih-bersih sebelum melanjutkan perjalanan. Bapak yang ramah itu mengajak ngobrol dan tentu saja bertukar dan mengunyah sirihpinang. Dan keramahan itu akan terus berlanjut karena telah diikat dengan sirihpinang.

Dari Bakitolas, perjalanan terus menurun dan melalui lembah sempit di antara perbukitan menjulang. Di Manamas kau sekan berjalan di lorong yang sempit dan gelap. Kiri kanan tebing-tebing seakan mau runtuh, ditahan oleh pepohonan. Bagian kiri adalah batas negara dengan Timor Leste. Lorong ini mencorong ke arah pantai di sebelah utara. Penduduk setempat menamakan kawasan ini dengan Neusmalelat, kata bahasa Dawan untuk “gerbang sempit”.

gerbang Taman Rekreasi Pantai Tanjung Bastian

Rupanya ini gerbang dari pelabuhan Wini untuk memasuki kawasan TTU. Sudah pukul duabelas. Kami akhirnya tiba di kawasan pantai Wini, kecamatan Insana Utara. Hawa yang sejuk tadi kini berganti menjadi gerah. Angin laut bertiup menjalarkan bahang mentari. Pepohonan kini menjadi seragam bidara dan gebang, khas tetumbuhan daerah pantai. Di beberapa tempat ada gerombolan jarak. Selamat datang di kota satelit Wini.

Perjalanan lantas menyusur pantai menuju ke arah Timur laut melewati tambak-tambak garam, hutan bakau dan gerombolan sapi di padang rumput.  Jalan raya kini mendatar, lurus dan nyaman dilalui. Ombak berdebur mengiringi derum sepeda motor. Kami terus melaju ke arah Mena, Biboki Moenleu, untuk selanjutnya memasuki Ponu, kecamatan Biboki Anleu.

Sayangnya, dengan kamera seadanya (bawaan ponsel Nokia X3-00) keindahan alam pantura timor ini tak terwakili dengan baik dalam rekaman gambar berikut ini.

Suatu hari aku mau balik ke sana dengan kamera yang lebih bagus, (sesudah berlatih cukup tentang tekhnik memotret :P) 


About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Februari 29, 2012, in wisata and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: