Jelang Pilwakot Kupang: Dengarkan Bicarahati!

Perempatan POLDA NTT, kota Kupang

Kesibukan terbesar elit politik di kota Kupang sekarang adalah menghandel proses pemilihan walikota yang akan berpuncak pada tanggal 1 Mei 2012, di mana berlangsung pemungutan suara.

Berita tentang para bakal calon (balon) yang sedang berdandan dan berkemas menjadi menu utama di hampir seluruh media di Nusa tenggara Timur tercinta. Orang-orang rupanya sadar, betapa pentingnya seorang pemimpin di antara mereka yang sanggup mengarahkan mereka untuk bangkit dari keterpurukan, dan berlangkah dari ketertinggalan.

Hingga saat ini, Maret 2012,  berkas-berkas dari para bakal calon masih dalam proses verifikasi dari pihak KPU. Memang, siapapun berhak menjadi walikota. Akan tetapi syarat-syarat tertentu dengan sendirinya menjadi saringan. Bakal calon yang lolos saringan akan terus bersaing dengan yang lainnya hingga akhirnya muncul satu paket yang resmi memimpin daerah kota ini.

Pembicaraan tentang walkot seperti ini dengan mudah dikategorikan sebagai pembicaraan politik. Dengan demikian, tulisan tentang pilwalkot pun dengan mudah dijerumukan ke dalam jenis tulisan “berbau” politik. Mendengar kata “politik” sebagaimana yang bisa saya perhatikan dari reaksi teman-teman socmed saya (fb/twitter), seperti mendengarkan nada sumbang. Lagu politik seperti lagu yang tergelincir karena tangganadanya melenceng.

Yang bisa ditemukan adalah ratapan tentang nasib rakyat yang selalu ditindas sementara para petinggi yang mulai matirasa. Coba saja, misalnya, jalan-jalan ke grup facebook timornews@yahoo.com, sekedar untuk menguji ketepatan pernyataan ini.

jangan terpengaruh iklan dan umbarjanji: psikologi pencitraan

Ratapan paling parah anak manusia (anak masyarakat) sekarang ini adalah perihal korupsi. Kata korupsi mirip virus yang menakutkan. Mereka yang terduga korup dicacimaki, dikutuk dan ramai-ramai dizalimi. Rupanya mereka tahu (atau sok tahu?) yang mana dan apa, idealnya seorang pemimpin: dekat dan simpatik dengan yang dipimpin.

Idealisme figur pemimpin seperti ini memang sangat didambakan. Namun, tentu saja kita butuh waktu yang relatif lama untuk mencapainya. Setiap pemimpin hanyalah manusia biasa. (Biasa narsis, biasa sombong, biasa rakus: ya bi[a]salah!) Tentu kita tak ingin dipimpin oleh malaikat.

Bisa beratus-ratus tahun untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan seperti orang-orang di Amerika. Namun dalam pada itu hal ini bukan berarti kita lantas terbebas dari masalah-masalah politik.  (Please, nih sebenarnya mau nulis apaan? To the point aja kenapa?)

"sudah saatnya perempuan bangkit": isu yang unik dan menarik : Gender!

OK. Kembali ke Pilwalkot Kupang. Para balon mulai tebar pesona. Pasang iklan sana-sini, menjalin silahturahmi dengan kelompok-kelompok potensial, dengan satu tujuan, memperoleh simpatik sebanyak-banyaknya, yang tentunya membantu menggenjot hasil pemungutan suara. Bersamaan dengan itu mulai bertebaran pula isu-isu, yang boleh dikata primitif. Misalnya dengan jargon “sudah saatnya orang Timor memimpin”, “kali ini mesti perempuan”, Balon ini cacat hukum”, Cukup sudah orang Rote” dls. Tidak salah bukan? Let’s enjoy it! (lha, kog malah keinggris-ingrisan?)

Tentu cuma satu dambaan dari nurani terdalam kita masing-masing: siapapun yang terpilih jadilah pemimpin yang mendekati ideal. Karena sudah pasti tak ada yang sempurna! Ingatlah, kalian dipilih oleh rakyat maka mengabdilah untuk rakyat. Anda menjadi pemimpin, berarti menjadi orang besar. Orang besar yang sesungguhnya adalah pelayan dari semuanya. Mampukah kalian, wahai balon wa/walkot?

Mari kita bagandeng tangan, pilih dengan mendengarkan kejernihan suara hati, biarkan hati bicara, jangan terpengaruh dengan iklan dan umbar janji. Suara Anda adalah suara Tuhan…

Selamat menjelang pilkada, wahai masyarakat kota Kupang yang resah karena hujan enggan turun ke bumi🙂 *kipas-kipas*

Yup, ada foto-foto balon tertentu di sini ya, anggap saja itu iklan gratis untuk mereka. Tapi saya tinggal di kawasan kabupaten Kupang lho, ngga sah ikut pilkada…😦

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Maret 2, 2012, in Moral, Politik, Refleksi and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: