Situasi dan Problem Bahasa di Timor Leste

Mount Ramelau, Timor-Leste

Mount Ramelau, Timor Leste, via Wikipedia

Sejak kemerdekaan, bahasa Portugis diumumkan sebagai bahasa resmi dan bahasa Tetun (dialek yang dibicarakan oleh mayoritas orang Timor Leste) sebagai bahasa nasional.  Namun ada kira-kira 15 dialek lain yang akan dipakai (Prior, 2004).

Presiden Xanana Gusmao, mendukung keputusan bahasa Portugis sebagai bahasa resmi karena dia yakin bahwa sejarah, agama dan kebudayaan Timor Leste berasal dari Portugis dan kalau Bahasa Indonesia dipakai, “kita akan menenggelamkan diri kita sendiri dalam masa depan” (Prior, 2004).

Pilihan Bahasa Portugis agak kontroversiil dan ada orang yang mempunyai keberatan.  Di Timor Leste, bahasa yang dibicarakan oleh suatu orang bergantung pada jaman waktu mereka dibesarkan.  Kebanyakan generasi tua berbicara dalam bahasa Portugis karena mereka dididik dibawah kekuasaan penjajah Portugis, tetapi generasi muda diajar Bahasa Indonesia selama hampir 25 tahun pendudukan Indonesia.  Selain itu, ada orang yang tidak berbahasa Tetun dan orang yang giat berusaha belajar bahasa Inggris selama empat tahun yang lalu sejak kemerdekaan untuk masuk dunia global (Prior, 2004).  Ada kelompok remaja di Baucau dan Los Palos yang menolak menghadiri kelas bahasa Portugis karena mereka merasa bahwa nilai-nila budaya yang tidak relevan sedang dipaksakan kepada mereka (Crockford, 2004: 209).

Kirsty Sword Gusmao, isteri Presiden Xanana Gusmao, berkata bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling nyaman bagi para remaja untuk berkomunikasi, kalau tidak untuk berbicara, ya untuk menulis.  Dia berpikir mereka yang belajar di Indonesia memang merasakan pergaulan kuat dengan bahasa,  dan juga dengan budaya dan rakyat Indonesia.  Dia juga percaya bahwa dorongan dan pemeliharaan Bahasa Indonesia di Timor Leste adalah penting untuk hubungan masa depan antara dua negaranya.  Dia berkata, “Masih ada hubungan kuat [antaraIndonesiadan Timor Leste], dan luar biasa, orang Timor Leste dapat membedakan antara militerIndonesiadan orangIndonesiadan tidak ada rasa tersinggung” (Prior, 2004)

Pemilihan Bahasa Portugis sebagai bahasa resmi menyebabkan kesulitan bagi para pengajar.  Buku pelajaran yang ditulis dalam Bahasa Indonesia harus diterjemahkan dan kadang-kadang pengajar harus memakai empat bahasa berbeda dan paling sering terpaksa menggunakan bahasa Indonesia karena itu bahasa yang lebih dikenal (Prior, 2004).

Janelle Marburg yang mengadakan wawancara dengan beberapa mahasiswa Timor Leste di Malang mengemukakan beberapa hal sebagai berikut:

Dari hasil wawancara, kelihatan persoalan bahasa dianggap oleh sebagian besar mahasiswa Timor Leste sebagai masalah yang sangat besar.  Semua mahasiswa diwawancarai dilahirkan sambil kekuasaan Indonesia dan oleh karena itu mereka dididikan oleh Indonesia, memakai bahasa Indonesia.  Pemilihan Bahasa Portugis dianggap sebagai masalah khususnya untuk generasi muda yang tidak dapat berbicara bahasa Portugis dan mereka mengalami kesulitan dalam komunikasi dengan generasi tua (Filipe).  Orang muda dipaksakan mengalami transisi lagi dan mengambil kursus lagi dan mereka merasa menakuti pembangunan akan dihambat pada masa depan (Filipe, Roberto).  Mahasiswa Timor Leste yang bisa berbicara bahasa Inggris berkata bahwa karena sekarang jaman modern, cenderung kalau bisa memakai bahasa Inggris, dengan bahasa Ingris (Jose) dan semua lain berkata mereka paling nyaman memakai bahasa Tetun atau bahasa Indonesia (Roberto, Ana, Alfonso, Thomas).  Juga ada yang berpendapat bahwa bahasa Indonesia seharusnya dipilih sebagai bahasa resmi Timor Leste karena kebanyakan masyarakat Timor Leste sudah tahu bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia bisa dipakai di negara Singapura, Indonesia, Malay dan Brunei (Ana, Roberto).

Juga ada satu mahasiswa Timor Leste yang berpendapat Bahasa Portugis dipilih oleh pemeritah Timor Leste bukan untuk generasi sekarang tetapi untuk generasi berikutnya dan dia tidak berkeberatan bahasa apapun yang digunakan di sana (Celestino).  Filipe memberi komentar yang menarik, dia berkata “belajar di Indonesia adalah sangat berbahaya  karena saudara yang ada di Timor Leste sudah ada empat bahasa” (Inggris,Indonesia, Portugis dan Tetun), tetapi dia tidak sedang belajar bahasa lain karena tinggal di Indonesia (Filipe).

Ternyata ada ketidakcocokan antara pendapat Presiden Timor Leste Xanana Gusmao tentang bahasa dan perasaan generasi muda.  Gusmao berpikir bahwa kebudayaan Timor Leste berasal dari negara Portugis tetapi mahasiswa Timor Leste merasa nilai-nilai budaya yang asing dan tidak relevan dipaksakan mereka karena mereka harus belajar Bahasa Portugis.  Sebelum keputusan memilih bahasa Portugis sebagai bahasa resmi, sudah ada jarak antara pengalaman dan pendapat generasi tua dan generasi muda, dan sekarang juga ada kesulitan dalam kemampuan komunikasi.

Kelihatan pendapat Kirsty Sword Gusmao bahwa remaja Timor Leste merasa pergaulan kuat dengan bahasa dan rakyat Indonesia dan bahwa mereka merasa paling nyaman untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia adalah benar karena mayoritas mahasiswa Timor Leste berkata mereka sudah mengadaptasi dengan masyarakat Indonesia dan merasa sangat nyaman memakai bahasa Indonesia.  Selain itu, menurut mereka Bahasa Indonesia seharusnya dipilih karena kebanyakan penduduk Timor Leste sudah tahu Bahasa Indonesia dan itu bisa dipakai di beberapa negara lain.

Karena hal bahasa di Timor Leste, barangkali sistem pendidikan di Timor Leste akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi baik.  Belum ada inti pengajar yang mempunyai pendidikan tinggi dan dapat berbicara Bahasa Portugis.  Selain itu pada saat ini, mahasiswa Timor Leste di Indonesia berada dalam keadaan yang merugikan karena mereka tidak dapat belajar Bahasa Portugis sedang studi di sini dan mereka akan harus membiasakan diri dengan Bahasa Portugis sebelum mendapat pekerjaan.

Dari: Janelle Marburg, Mahasiswa Timor Leste Di Malang: Pengalaman, Persepsi Dan Cita-Cita, Tugas Studi Lapangan program ACICIS Studi Lapangan, Universitas Muhammadiyah Malang, 2004

About these ads

Tentang Patris Allegro

native Timorese, clasiccal-music lover, existensialist on the street....

Posted on Maret 8, 2012, in Budaya and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Tulisan yang mencerahkan, ROmo :)

  2. timur leste pakai bahasa portugis,seolah olah timor leste tidak punya marwah dan harga diri.

  3. Septian, M.Kes.

    Seharus Bahasa di Timor Leste Bahasa in donesia karena mereka semua sudah familiar dengan bahsa Indonesia selama 24 Tahun….

  4. aaaaaa uduuuuu td tertulis dalam kamus kalo timor leste harus memakai bahasa indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

senibenni

berkarya dalam bentuk rupa

@NotedCupu Mahasiswa "Imigran"

Terkadang Pemikir, Terkadang Gak, Terkadang Edan | #NotedCupu

KEMBARA KEHIDUPAN SEORANG THEOFILUS NATUMNEA

"Melayani dengan Setulus Hati"

Return to Rai Ketak

Ruminations on Timor my (once) island home

ManaShines

Sharing Ideas about Anything,..

Dg Situru'

catatan refleksi & pemikiran

Seluz Fahik's Blog

Here I go... Can't stop writing now!!

Gusndut Belog

catatan tak bernilai

Nunna Lita

i'm a little physic holic with big dreams, love n imaginations :)

White Chrysant

As white as a white love

Forum SoE Peduli

"Manekat Neu Pah Timor"

Musafir MSF

Misionaris Keluarga Kudus - Provinsi Kalimantan

IKATAN KELUARGA KATOLIK SUMATERA UTARA

DOA, PERSAUDARAN DAN CINTA KASIH

arintacerita

suka cerita suka jalan-jalan

Alfons Sebatu

Just another Alfons Sebatu's activities

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Rona Lembayung Senja

Menemukan Hikmah, Ilmu dan Segala Amal Sholeh

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.220 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: