Teku: Perampokan Bersenjata di Timor Tengah Selatan

Masih kau ingat kasus pencurian bersenjata tradisional yang marak terjadi di kabupaten Timor Tengah Selatan sekitar tahun 2007? Kalau kau penduduk Timor, tentunya, atau sekurang-kurangnya warga NTT…

pahlawan resolusi konflik🙂

Keganasan Teku cukup menarik perhatian kala itu. Apa yang ada dihadapan dibabat habis tak tersisa, segala barang dalam rumah, binatang di kandang, – bahkan langsung dibunuh di kandang, dagingnya dibawa, tinggal belulang dan isi perut. Polisi dan jaksa dan Petugas penjara dibikin sesak oleh pelaku-pelaku yang sebagian resividis.

Secara khusus, kasus ini sering terjadi di daerah Amanatun dan kawasan timur Amanuban, kawasan yang dikenal sebagai “segitiga­perbatasan” (TTS-TTU-Belu). Bisa jadi biang munculnya teku adalah persoalan tapal batas yang hingga kini tak pernah beres.

Istilah teku yang digunakan untuk menyebut gerombolan tersebut lantas menjadi popular dan biasa digunakan secara kelakar untuk menyebut mereka yang berasal dari TTS.(Nah, saya juga teku, lho!)

Hingga kini, berkat sishankam yang mantap, teku mulai jarang terjadi. Yah, mudah-mudahan oknum-oknum tersebut sudah bertobat dari keganasan mereka.

Tulisan ini hanya kesan dari cerita mulut ke mulut, yang saya dengar dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang anak yang lahir dan besar di Amnuban.

Dalam kosa kata bahasa Dawan, teku serta merta diasosiasikan dengan perselisihan dan sengketa.  Artinya kau tak perlu takut dirampok teku kalau, hubungan dengan tetangga baik-baik saja.  Hati-hatilah kalau pernah terjadi konflik tak terselesaikan dengan orang lain. Peluang kau disatroni teku menjadi makin besar.

Teku merupakan suatu organisasi – kalau boleh dikatakan demikian- eksklusif dan rahasia.  Anggotanya bervariasi  – tergantung kebutuhan. Biasanya ada satu Kepala, Meo `nakaf, dengan keahlian dan ilmubela diri tingkat tinggi. Juga termasuk orang pintar yang bertugas menetapkan `hari baik’ untuk mulai beroperasi.

Teku ternyata bukanlah suatu aksi pencurian semata. Ia ada sebagai alat propaganda (atau apalah – itu kata yang muncul dikepala saya- ) dalam masyarakat primitif, sebuah terorisme tradisional. Sebentuk teror dengan perjuangan untuk “ideologi kebersamaan”, dan berfungsi untuk menyelesaikan konflik yang tak  terselesaikan (yang benar aja, lo, teku!)

Umumnya masyarakat atoin meto selalu menginginkan keseragaman. Tok-tabua tmoin tabua, Tnekmese-ansaomese (= hidup bersama: sehidup-seHati) adalah filosofi yang mendasari hidup mereka. Keseragaman ini begitu ditekankan sehingga muncullah ekses indifferentisme (apa pula ini?) Orang merasa bahwa yang lebih tinggi dari kita adalah bukan kita. Misalnya, ada keluarga yang punya rumah permanen, berdinding tembok, dan beratap seng, adalah lebih tinggi status sosialnya dalam masyarakat dibandinglcan dengan mereka yang hanya menghuni rumah beratap ilalang dengan dinding bambu/bebak. Keluarga yang menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat yang lebih tinggi dari sekedar `wajib belajar’ pun secara otomatis naik tingkat dalam status masyarakat. Mental kekitaan sangat kental menguasai masyarakat kecil. Timbullah rasa iri hati karena kemajuan orang lain.

Di lain pihak, terdapat orang yang berstatus tinggi namun secara ekstrim melecehkan filosofi toktabua; sikap toktabua hanya akan menghambat kemajuan. Konsekuensinya jelas, ia disingkirkan dari pergaulan, bila perlu diancam dengan teror. Di sinilah teku berperan menyebar terror. Teku tidak saja bermaksud merampok barang, namun lebih dari itu hendak menyadarkan orang bahwa `kamu tidak  hidup sendiri di sini’.  Peran teku di sini mirip-mirip para penyamun di zaman Yesus (cieeh, memangnya  kamu mesias ya?)

Sebenarnya ada juga teror model lain, dengan menggunakan ilmu hitam, suanggi (a’le, alaut). Namun, dibandingkan dengan alaut, teku lebih bersifat konfrontasi langsung, dan punya efek yang lebih besar. Teku terkesan lebih perwira dan tandas tanpa tedeng aling-aling, ketimbang alaut yang main belakang, dan kamuflase sana-sini. Uniknya teku pun kadang-kadang secara sopan, memperingatkan calon korban, perihal agenda penyatronan (sesuatu banget yah!).

Walau seperti itu cerita yang dari mulut ke mulut, tapi kenyataannya Teku adalah cara orang kampong untuk meraup kekayaan secara instan. Tindakan kriminal yang mesti diberantas habis gelap terbitlah terang, hingga ke akar-akarnya. Akarnya mana? Ya itu, yang muncul dalam istilah saya “ekses indifferentisme”

Cukup sulit memang menangani gerombolan teku yang keras kepala, kalau benar aksi itu  berkelindan dengan terorisme. Pertama pelakunya, konon tak mempan senjata tajam (kalau kau tembak dia,  pelurunya bisa mental balik lagi ke kamu :)) Kedua, mereka `mendapat restu’ dari dari orang-orang yang berkepentingan dalam suatu konflik.

Di daerah kawasan segitiga perbatasan ini rupanya pas kalau yang menjadi kepala petugas keamanan (polsek/danramil) adalah “putera daerah” yang bisa berakrab-akrab dengan masyarakat melalui ritual makan sirihpinang. Kau tahu, dengan bersama makan sirihpinang itu berarti kita berdua telah menjadi saudara, takkan mudah timbul perselisihan antara kita. (Hebat, ini salah satu tradisi luhur atoin meto umumnya)

Tapi, tak usahlah risau, kawasan segitiga perbatasan sudah relative aman. Pada daerah-daerah perbatasan TTS dan Belu yang rawan konflik sudah ditempatkan sejumlah petugas keamanan (TNI dan Polri – PosPol dan PosMil). Walaupun masalah perbatasan itu belum juga beres-beres. Sudahlah, sekarang sebaiknya kita focus pada upaya pendidikan. Banyak orang TTS yang ke luar negeri lho, tapi justru karena memang hanya itulah yang bisa mereka buat untuk menyambung hidup: Menjadi buruh kasar di negeri orang. Dan kita orang Indonesia yang gila eufemisme mengatakan Tenaga Kerja Luarnegeri, Pahlawan Devisa Negara… Makan tuh, devisa!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Maret 14, 2012, in Budaya and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: