Membaca HAWA: Perempuan Sebuah Misteri

Hawa karya Sandra Olivia Frans

Perempuan Sebuah Misteri

Setelah menanti dengan tak sabaran, akhirnya buku Hawa karya Sandra Olivia Frans, salah satu anggota Flobamora Community tiba di tangan saya. Terimakasih buat Christian Dicky Senda yang sudah mengantarkan, juga buat si penulis @sandrafrans untuk goresan berupa pesan dan tandatangannya.

Buku ini adalah karya pertama saya, begitu kata penulisnya yang kelahiran Soe TTS, dan sedang mengabdi sebagai seorang Dokter. Terlepas dari segala macam apologi khas seorang penulis pemula mari kita menikmati dulu karya yang lahir dari rahim Flobamora Community ini.

Hawa merupakan kumpulan cerita yang pernah dimuat di blog www.tulisan-sandra.blogspot.com. Umumnya merupakan ungkapan hati seorang wanita tentang wanita. Artinya bagaimana seorang perempuan merefleksikan keperempuanannya dengan mengacu pada tokoh perempuan paling dekat dalam hidupnya; seorang ibu.

Membaca skimming buku ini, sekilas muncul dibenakku, Susana Tamaro, novelis perempuan Italia, yang triloginya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Va dov’e il cuore ti porta, misalnya merupakan kemasan ungkapan hati antarperempuan, antar generasi; semacam nyanyi sunyi seorang nenek kepada cucunya perempuan. Segala yang berbau “perempuan” dalam arti yang sedalam-dalamnya bertebaran di sana-sini, sekaligus mengikat dan mengutuhkan seluruh trilogi ini.

Mirip dengan Susana Tamaro, Penulis Hawa ternyata mengungkapkan hal keperempuanan dengan pengungkapan sendiri yang khas; sandra banget!

Ini cerita mengenai seorang perempuan kuat dan berpengaruh pertama yang hidup di bumi ini. Perempuan yang kemudian menginspirasi banyak perempuan lain yang lahir setelahnya.Mungkin kau sudah dapat menebak. Benar, namanya Hawa.

Kisah pertama, Hawa, yang sekaligus menjadi judul kumcer ini, adalah sebuah kisah saduran dari cerita biblis tentang legenda penciptaan manusia. Perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, dan keduanya kemudian bukan lagi dua melainkan satu. Dengan cermat, penulis melukiskan adegan demi adegan tentang kesadaran perempuan di taman eden hingga kejatuhan dia dan laki-laki di sampingnya ke dalam dosa. Cerita ini diperluas hingga datangnya turunan pertama di muka bumi: putera Adam dan Hawa. Siapa lagi kalau bukan Kain.

Hingga halaman terakhir kita diajak untuk merefleksikan betapa berharganya seorang perempuan, seorang ibu untuk sebuah dunia, dunia yang niscaya pincang dan tertatih-tatih tanpa belaian kasih dan sayang seorang perempuan. Inilah sebentuk pemaknaan hidup dari seorang perempuan yang sungguh menyadari tugas dan tanggungjawabnya, kini dan kelak sebagai seorang ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak manusia.

Refleksi-refleksi kecil yang terangkum dalam  Hawa ini hadir dan memperkaya wacana tentang perempuan ditengah dunia kita yang entah kenapa menjadi phallosentris. Memang sudah begitu banyak wacana tentang perempuan dalam kehidupan kita sehari-hari. Meski demikian keluhuran dan kesederajatan martabat antara perempuan dan laki-laki masih tetap menjadi bahan pergunjingan.

Di hadapan dunia, perempuan serupa makhluk penuh misteri. Dalam kehalusan dan keanggunannya tersimpan kekuatan yang luarbiasa. Bahkan, para ahli sejarahpurba menegaskan  perempuanlah yang mengarahkan evolusi kebudayaan dunia. Kita berpindah dari food gathering ke food producing karena “masalah perempuan”. Mereka yang hamil tentu tak bisa jauh-jauh mencari makanan. Makanya mereka mencoba “membuat’ sendiri sumber makanan di sekitar tempat tinggal mereka. Jadilah mereka manusia petani. Maka para pemburu yang laki-laki itu ikut-ikutan.Lalu kita menjadi manusia agrikultur. Hebat bukan?

Membaca Hawa, saya merasa bertemu dan berdialog dengan perempuan-perempuan  legendaris, yang biblis maupun non-biblis: Hawa Die Ur-Mutter, Sara, Ruth, Rahab, Delila, Bunda Maria, Maria Magdalena, Cleopatra, Putri Diana, Ibu Theresia, Aung San Syu Kii, Margareth Thatcher. Lagi Megawati, Sri Mulyani, dan tentu saja, Ibu dan saudara-saudari saya…

Proficiat untuk Sandra. Teruslah berkarya!🙂

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Maret 23, 2012, in Resensi and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Saya tidak menemukan kata untuk berkomentar. Terima kasih, sungguh terharu sekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: