The Six Brothers: Sasandu Night at Flobamora Waterpark

Saya pikir judul tulisan ini seharusnya Enam Bersaudara: Malam Sasandu di Taman Air Flobamora. Tapi ya itu, saya ikut latah dengan tagline di Taman Air kompleks Mall Flobamora, yang tertulis demikian Flobamora Waterpark, the most exciting place for family vacation. Ga peduli apa artinya, yang penting keren bukan? Walau pengunjungnya kebanyakan orang KUpang, tetap tertulis dalam bahasa Inggris. Jadi gampang buat belajar bahasa Inggris…

A view from the Tong Sampah

Ya sudahlah itulah kebiasaan keinggris-inggrisan kita. Saya mau cerita tentang sesuatu di dalam Taman Air itu yang menarik perhatian saya. Sore kemarin pas lagi buka twitter, di TL saya ada twit dari @NTT_Update mengabarkan tentang Pentas Sasandu di Taman Air tersebut. Tanpa panjang pikir aku langsung memacu sepedamotorku menuju ke sana. Ya, lihat-lihat sajalah. Aku tak pandai main sasandu, tidak juga bisa menikmatinya dengan baik… aku sih masih fanatik dengan musik klasik barat (lagi-lagi kebarat-baratan)

Di sana di halaman parkir sudah terdengar alunan melodi sasandu. Aku lantas buru-buru mengambil pas masuk seharga 15 ribu dan melenggok ke dalam. Duilah, asyik juga nih Waterpark, tertata rapi, bersih dan indah. Pantas aja retribusinya sangat tinggi, kemahalan buat anak-anak kos dari kampung, mending rekreasi ke pantai Nunsui, ga ada retribusinya…. Ya namanya juga alam imitasi dengan mengerahkan segala kemampuan tekhnologi, yang bayar juga kita-kita…

Bos, sebenarnya mau cerita apa ini?

Berto Pah diusili pengacara

Oia, malam ini ada pentas Sasandu di Waterpark Flobamora. Enam Bersaudara Pah terdiri dari Djitron, Ivan, Berto, Edmund, John, dan Jack memainkan sasandu elektrik berkolaborasi dengan musik modern. Pentas malam ini digagas sendiri oleh Pah bersaudara dengan dukungan bulat-bulat dari Waterpark Flobamora. Menurut pengakuan Berto, yang sempat diwawancara pembawa acara, ini merupakan satu langkah menuju konser mereka nanti pada tanggal 12 Mei 2012. Selain itu katakalah ini bagian dari rehearsal mereka yang dipersembahkan untuk pengunjung WP #Wordpress, = Waterpark malam itu.

Saya nongol di tengah kerumunan orang di sekitar panggung berupa tenda plastik berwarna kuning itu persis di samping air mancur. Pengunjung menonton dari tempat duduk masing-masing. Aku kelabakan mencari tempat duduk hingga akhirnya menemukan tepi pagar taman sebagai tempat duduk yang nyaman, dekat tong sampah (kacian!). Tak apalah yang penting bisa mengamati penampilan Pah bersaudara malam ini. Saya bilang mengamati, sebab ternyata saya sampai sekarang belum juga menikmati keindahan sasandu. Hemat saya, sasandu tak jauh berbeda dengan harpa. Kendati harpa memang lebih huge dengan tone yang lebih tebal dan lebih jernih. Tapi saya tetap mengapresiasi permainan sasandu sebagai satu-satunya alat musik tradisional NTT yang go international dan sekarang menjadi ikon musik NTT.

The Six Brothers: Sang Pemetik

Beberapa nomor lagu dilantunkan oleh penyanyi bersuara bagus, sayang tidak begitu kukenal. Saya fokus pada permainan sasandu mereka. Tiba pada nomor instrumen aku bergidik. Permainan sasandu meniru gitaris akustik asal Jepang itu luar biasa. Bahkan kurasa lebih indah lagu itu terdengar di Sasandu daripada versi gitarnya. Oya, saya juga lupa apa judul lagu tersebut… Selain itu, lagu-lagu yang lain biasa-biasa seperti musik cafe umumnya. Ruh sasandu yang sebenarnya lekat dengan sasandu gong tidak muncul malam itu, entah gentayangan ke mana.

Malam itu the six brothers juga bagi-bagi doorprize (bahsa indonesianya apa ya =hadiah pintu?) berupa souvenir miniatur sasandu dan voucher dari Waterpark. Lagi-lagi aku tak kebagian! Ckckck! Mereka juga meminta dukungan finansial untuk konser mereka. Barang siapa mengjukan bantuan malam ini, akan diperlakukan dengan hormat pada malam pentas nanti, demikian interpretasi saya terhadap kata-kata si pembawa acara. Beberapa orang yang kukira memang berduit banyak, menuju ke meja yang disediakan dan menulis entah apa. Aku bergeming, dan sesekali menjepret dengan kamera bawaan ponsel Nokia x3-00, dan yang tertangkap kamera cuma warna hitam!

The Six Brothers atawa Pah Bersaudara ini akan mengadakan konser bertajuk Sang Pemetik pada tanggal 12 Mei 2012 nanti. Mereka sedang berusaha melobi penyanyi kawakan Indonesia Vina Panduwinata untuk turut serta meramaikan konser tersebut. Mudah-mudahan berhasil. Orang Kupang terutama mereka yang dari generasi 70-80 bisa kembali mengagumi suara emas Vina Panduwinata.

Sasandu yang aslinya dari Rote itu memang sedang naik daun dikenal di seluruh indonesia terutama setelah Djitron manggung di Indonesian Got Talent dan Berto saudaranya beraksi di Indonesia Mencari Bakat. Bahkan ST 12 grup musik kesukaan para ABG pernah meminta Berto untuk sesekali bisa rekaman dan manggung dengan sasandu. Sayangnya cita-cita itu belum kesampaian ketika ternyata ST12 buru-buru hengkang dari dunia persilatan panggung musik. Bubaran!

Sosialisasi musik sasandu pun sedang gencar dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTT. Ya, kita terus berharap, Sasandu semakin dikenal warga dunia. Pada gilirannya NTT akan mendapatkan imbasnya, namanya harum dan dikenal di seantero jagat. Mungkinkah? Sesudah Komodo, kita memang mesti berpaling juga kepada sasandu. Tak perlu vote dengan sms. Cukup dukung penampilan Pah Bersaudara dengan menyisihkan waktu untuk datang menonton konsernya nanti. Nah, itu tanda kita cinta tanah tumpah darah NTT, tempat akhir menutup mata… Juga cinta kebudayaan sendiri, menjaga dan melestarikannya sebagai warisan luhur dari nenek moyang kita yang entah pelau entah bukan, siapa peduli?

Mari dukung Musik Sasandu. Tapi saya juga masih bingung, adakah diantara pembaca yang punya usul saran tentang cara-cara  pelestarian musik sasandu  selain dengan ikut menonton konser Sasandu?

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Maret 26, 2012, in Seni Pertunjukan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: