MANUSIA NTT DAN AGAMANYA

NTT dan kekristenan

Manusia NTT hidup di alam lingkungan berpulau-pulau. Pulau-pulau disatukan oleh laut yang mengelilingi. Daratan bergunung-gunung, -kebanyakan gunung berapi-, dan bukit-bukit. Dataran tidak luas, kering, banyak yang merupakan padang sabana. Musim hujan sering pendek. Laut sering tidak bersahabat, gunung berapi juga siap mengancam. Belum lagi banjir, longsor, gempa bumi.

Di alam lingkungan seperti ini manusia NTT berjuang mengola hidupnya. Kebanyakan menjadi petani: mengolah tanah, memelihara ternak. Yang tinggal di pantai, menangkap ikan di samping bertani. Semuanya dengan peralatan sederhana. Ekonominya cukup untuk bertahan hidup, sering juga tidak cukup.

Di alam lingkungan seperti ini, manuia NTT sungguh merasa hidup ini keras. Dia mengalami keterbatasannya di tengah alam lingkungan yang sering nampak dasyat mengancam: Ketika hujan yang di harapkan tak kunjung datang, ketika panas berkepanjangan bisa membakar tanaman, ketika panen gagal, ketika laut tidak bersahabat, ketika bencana alam menimpa, ketika panen kurang berhasil atau malah gagal, manusia mengalami sungguh betapa dia kecil tak berdaya, maka serentak itu pula dia merasa ada yang kuat kuasa, yang seolah menangkap dia dalam genggamannya. Tak ada jalan lain dari pada mengarah ke DIA.

Untuk mendapat yang baik bagi hidupnya:  panen baik, tangkapan dari laut baik, hewan ternak sehat dan berbiak, keluarga berketurunan dan sehat, dia berharap, dan karena itu memohon kepada DIA, dia mengadakan upacara, berdoa. Ketika dia mendapat yang baik itu, dia menghayatinya sebagai berkat dari DIA atas kerja dia. Alasan untuk bergembira dan bersyukur dalam upacara. (mis. upacara syukur atas panen).

Pengalamannya membentuk gambaran dirinya tentang SIAPA KAH DIA itu, seperti apa DIA,  siapa dirinya terhadap DIA, apa urusan DIA dengan dirinya/manusia. Itu lah teologi nya, lisan, dirumus lisan dalam pelbagai ceritera lisan (mythos,legenda) yang diteruskan dari generasi ke generasi, aturan hidup (etika yang menuntun). Teologi seperti ini lah yang menginspirasinya bagaimana mestinya bersikap: berserah, berdoa, membawa persembahan/kurban dan tata caranya (liturgy, rubrik), di mana tempat dia beribadah (tempat keramat), bagaimana bertingkah laku benar dalam hidup. Ini lah agama, agama orang NTT, ungkapan atas Iman yang terbentuk dari pengalaman hidup nya di alam lingkungan NTT. Agama ini buah ciptaan manusia NTT, yang selaras dengan alam lingkungan NTT, meresap menyatu dengan manusia NTT. Agama itu kehidupan: buah refleksi atas kenyatan hidup dan perayaan atas hidup. Hidup itu beragama.

Ketika pewartaan Iman katolik disampaikan kepada manusia NTT, agama dan Iman manusia NTT tidak dipeduli, dilihat sebagai kekafiran, kuasa setan, maka harus dibasmi sampai ke akar-akarnya dan ditanam baru Iman dan agama para pewarta yang datang dari barat: Teologi, Liturgi, Hukum Canon dsb.  Ibadat/liturgi, tempat-tempat khusus beribadat/membawa korban, symbol-simbol dihancurkan. Manusia NTT mengalami tidak dapat melepaskan agamanya/adatnya, karena merupakan bagian dari hidupnya. Maka jadi lah bahwa Iman dan agama yang diwartakan itu diterima sebagai tempelan belaka, bukan lah Iman dan Agama yang menyatu dengan kehidupan manusia NTT. Agama dan Iman manusia NTT tidak hilang, dan tetap menjadi solusi aneka persoalan hidup. Hidup beragama jadi ganda.***

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Mei 7, 2012, in Teologi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: