Saya ikut launching Novel ini di Aula Universitas Widya Mandira Kupang,,, beberapa tahun yang lalu.
Di samping isu masalah sosial yang diangkat, ada satu hal yang kurang “nalar”
“Keberpihakannya terhadap orang kecil, bukan hanya pada soal tambang tetapi bagaimana berjuang menyuarakan agar tuak dan jagung titi menggantikan posisi hosti dan anggur yang harganya melonjak, jauh dari masuknya derma setiap hari Minggu (hal. 112).”
Jelas pemikiran ini dipaksakan untuk tokoh Pastor Pedro. Pemahaman filosofi dan teologis tentang roti dan anggur itu sendiri jelas tidak akan memungkinkan untuk memilih alternatif lain, seperti Ayam merah di timor untuk anak domba di Israel.🙂 Hanya mungkin dipikirkan oleh seorang aktivis sosial katolik non-klerus !!

Blog Sastra F. Rahardi

Catatan atas Literature Khatulistiwa Award)
Oleh Hengky Ola Sura

Tulisan ini merupakan apresiasi atas Literature Khatulistiwa Award yang dimenangkan oleh Lembata sebuah novel. Juli 2008 lalu, penerbit Lamalera menerbitkan sebuah novel yang ditulis oleh sastrawan dan jurnalis senior Indonesia, F. Rahardi, dengan judul Lembata. Catatan pengantar dari penerbit menulis, mengapa Lembata dan mengapa sebuah novel? Pertanyaan tersebut sebenarnya menempatkan dimana suara kenabian (profetik) Gereja Katolik yang telah berada di Lembata sudah seabad lebih ternyata belum menunjukan ada perkembangan berarti yang dialami masyarakat Lembata. Masalah kemiskinan berujung pada masalah- masalah sosial lainnya, seperti pendidikan, sanitasi dan moral masih akrab membelit masyarakat. Lebih buruk lagi, di tengah pusaran kemiskinan itu pemerintah yang sudah (terlanjur) didewakan sebagai motor pembangunan justru dengan seenaknya mengkampanyekan kemiskinan Lembata kepada para cukong pembangunan (pengantar penerbit hal v dan vi). Rahardi menggores sesuatu yang ‘beda’ dalam pelesirnya ke Lembata. Lembata adalah eksotika bagi Rahardi untuk mencoba membahasakan suasana…

Lihat pos aslinya 873 kata lagi

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Mei 17, 2012, in Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: