Bermain Angklung di Saung Angklung Mang Ujo – Bandung

Apa khabar pertunjukan music daerah NTT? Apa masih banyak orang muda yang getol dengan kesenian tradisional kita ini? Ketika berada di Bandung September yang lalu, saya mendapat kesempatan bersama teman-teman mengunjungi Saung Angklung Mang Ujo, yakni sebuah sanggar pertunjukan music khas Sunda:  angklung.

Bangsal pertunjukan Angklung

Kami tiba di tempat yang dipenuhi rimbunan bamboo itu pada pukul 14.00. Rombongan kami disambut dengan pengalungan miniature angklung. lantas diantar menuju ruang pertunjukan: sebuah bangsal seluas lapangan basket dan menanti di sana hingga pertunjukkan dimulai.

pengalungan cenderamata

Tepat pukul 14.30 sepasang remaja pembawa acara menyapa para penonton yang terdiri dari dua kelompok: kelompok Kanisius [yakni rombongan kami] dan keluarga besar Honda [entah karyawan PT Honda asal mana]. Pertunjukan di awali dengan demonstrasi wayang golek, kendati sama sekali tak mengerti jalan cerita berbahasa sunda toh saya menikmati saja bagaimana sang dalang mengatur-atur wayangnya. Sesuatu sekali, mengingat selama ini wayang Cuma bisa saya lihat sambil lalu melalui siaran televisi…

khitanan

Berikutnya atraksi khitanan khas sunda dengan musik dan tarian dari para junior. Sekelompok anak berusia antara kelas satu sampai kelas tiga SD masuk membawakan acara khitanan. Seorang anak kecil ditandu dan yang lainnya  menarikan tarian, mirip pencak silat. Meski memang terlatih dan kelihatan luwes, kepolosan kanak-kanak tetap terlihat dalam gerak tarian mereka. Dan ini yang inspiratif dan unik. Saya pikir adalah  hal yang bagus melatih anak sejak dini untuk mengenal dan mencintai tarian dan music daerah sendiri.

tarian topeng

Usai pentas khitanan, berikutnya tarian topeng. Tiga gadis remaja meliuk-liukkan tubuh dengan anggun  diiringi orchestra angklung. Kali ini mereka lebih mempertunjukkan kelenturan tubuh dan keseragaman gerakan.  Di bagian Orchestra,  Para pemain remaja beraksi dengan bagiannya masing-masing. Angklung melodi, angklung bass, angklung harmoni, arumba, sitar, rebab dan kendang. Yang unik, band tradisional ini bercampur dengan gitar listrik bas dan melodi. Siang itu lagu-lagu pop yang saya cuma ingat melodinya sepotong-sepotong, itu terasa lebih menarik dan jauh dari rasa murahan. Sebuah kolaborasi angklung dan pop-jazz yang apik.

salah satu anggota orchestra angklung

Acara berlanjut dengan gabungan antara pemain junior dan pemain remaja, membawakan lagu-lagu daerah nusantara; sebuah medley ibu pertiwi. Lagu dimulai dari daerah Aceh dengan Bungong Jeumpa kemudian ke Tapanuli, Sigulempong, lalu ke Betawi dalam Kicir-kicir, menuju Jawa dengan Manuk Dadali, menyebrang ke Maluku dalam Sio Mama dan akhirnya ke ufuk timur, Papua , dengan melodi ritmis Yamko Rambe. Pada bagian lagu Yamko Rambe beberapa anggota kelompok Kanisius yang berasal dari Papua [yang tidak sulit dikenal] diajak untuk ikut menyanyikan lagu tersebut.

asyiknya bermusik sama-sama

Tibalah acara puncak di Saung Angklung siang itu. Bermain angklung bersama. Kepada kami masing-masing dibagi satu buah angklung. Saya mendapat angklung dengan tulisan i, artinya dalam posisi tangga nada natural saya memainkan c /do tinggi. Setelah pengacara menjelaskan cara memegang angklung: bagian atas dipegang dengan tangan kiri, tangan kanan memegang bagian kanan angklung, kami semua mencoba menggoyangkan angklung masing-masing mulai dari do rendah hingga do tinggi, masing-masing dengan isyarat tangan khusus oleh pengacara. Akhirnya setelah menguasai masing-masing isyarat tanda, kami memainkan beberapa melodi sederhana lalu siap memainkan beberapa lagu. Lagu yang kami mainkan itu antara lain: Tanah Airku dari Maladi dan Burung Kakatua. Bermain music bersama-sama selalu menyenangkan!

Acara ditutup dengan acara permainan masa kecil dengan iringan Orchestra. Para penonton dan performer berbaur di lantai pertunjukkan, memainkan beberapa permainan kanak-kanak, hingga akhirnya bubar. Kami sempat melihat-lihat toko angklung. Tersedia berbasai macam alat music dari bambo: suling kelihatan paling banyak, selain angklung dengan berbagai ukuran, arumba, calung, dan berupa-rupa cendera mata.

lagu burung kakatua

Pukul 16.00 tepat kami meninggalkan Saung angklung Mang Ujo di bawah keteduhan rimbunan bamboo di sudut kota Bandung.  Saya lantas  bepikir di NTT pun music sasando perlu lebih diperkenalkan pertama-tama kepada generasi muda sendiri, sebelum diperkenalkan ke masyarakat luas. Saya lihat kalau ke sanggar sasando di Oebelo, para pemain justru orang-orang tua, kemana anak-anak kita? Di Bandung para pemain justru anak dan remaja dan jumlahnya pun sangat banyak.

dalang beraksi

Hemat saya khusus untuk sasando, pemerintah NTT masih terlalu sibuk memperkenalkan nya kepada orang luar sampai lupa mengenalkannya kepada anak kandungnya sendiri . Memang tujuan menggaet wisatawan sebanyak-banyaknya untuk menambah pendapatan daerah masih merupakan prioritas ketimbang upaya pelestarian kesenian itu sendiri. Ini sebenarnya terbalik. Seyogyanya, kalau banyak orang “asli” sudah menyukai sasando, maka dengan sendirinya akan banyak orang tertarik untuk menikmati alunan music khas dari bahan daun lontar tersebut. Setuju?  Nah, bisakah  musik sasando menjadi salah satu pelajaran keterampilan di sekolah sekolah kita?

*** Oia ini salah satu contoh lagu yg cukup sulit dari orchestra angklung Udjo

About these ads

About aklahat

born Timorese, speak Dawanese, think Indonesian

Posted on November 7, 2012, in Seni Pertunjukan and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Informasi di Kupang sudah ada Sanggar Edon Sasando, di situ byk anak-anak yang sudah pandai memainkan sasando mulai dari SD,SMP,SMA sampai mahasiswa.
    Sanggar Sasando ini di latih oleh Bapak Habel Edon. Tq

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

erniraster

the way to share my soul

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

JNYNITA

your Friendly Dentist

What an Amazing World!

seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Cerita Aku Untuk Dunia

Cukup dengan membagi hal yang kecil kepada orang lain kamu akan mendapatkan kebahagian yang luar biasa :)

JalanBlog

www.jalanblog.wordpress.com

Nadhirah!

Jika tak menulis, kau kan benar-benar tiada setelah meninggalkan dunia..

Anima Education

For Information on current and upcoming Anima Education courses

Scribo Ergo Sum

Perjalanan kepada puisi

Anisa Ma'watunnisa

usaha dan berdoa adalah buah dari keberhasilan

Twin Lover's World (Nora Panai)

Tidak Akan Ada Lagi Namamu Dalam Cerita

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Segores Tinta Coemi

Just everything about something unique, valuable, and wonderful

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.610 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: