Aroma NATAL di TB GRAMEDIA KUPANG

Setelah akhirnya saya benar-benar lupa, kapan saat terakhir nongkrong di TB Gramedia Kupang, sore ini sesuatu  menggerakkan saya menuju ke tempat berikon merahputihbiru itu. Di ufuk barat ada semburat jingga kemerahan oleh sinar-penuh mentari di ujung barat kota Kupang. Si raja siang sedang menjelang peraduan, nyaris ditelan selat Pukuafu. Saya memacu sepeda menuju Toko Buku & Alat Tulis Kantor itu di bilangan Kuanino, Kupang. Hujan siang tadi menyisakan genangan air di pinggiran jalan beraspal. Dan dedahan flamboyant memamerkan bebunga oranye, menambah suansana romantic kota Kupang senja ini.

Ada banyak kejutan di sini, setelah sekian lama terkurung di kamar gara-gara ketagihan mengup-date status FB. Pertama, begitu memarkir sepeda dan beranjak ke pelataran, dan bersiap-siap menitipkan tas… eh, tempat penitipannya ke mana? Hilang, digantikan dengan pajangan obral pohon natal dari plastic dengan hiasan warna-warni, lengkap dengan kertas bertuliskan hargajual – mendekati satujuta rupiah. Aku segera mengembalikan tas ke tempat semula: di punggung, lalu beranjak naik ke lantai dua. Aroma lantai-keramik-baru meruap mengobok-obok perutku yang entah kenapa, kok baru jam lima sore su rasa lapar – .

Di samping kiri dan kanan tangga, diletakkan pernak pernik natal, berupa boneka-boneka Merry Christmass. [boneka yang bagaimana? Sayang, saya lupa membawa kamera tadi). Saya terus menanjak ke lantai tiga. Nah, ini kejutan kedua. Beberapa hari lalu, di ruang baca seminari ada dua buah lemari buku yang konon disumbang dari Gramedia. Oh, ternyata mereka cuma membuang sampah. Itu lemari-lemari bekas dari sini, diganti dengan yang baru.

Oya, barangkali seperti Anda, saya bisa menebak karakter seseorang dari lantai berapa dan di sudut mana dia berlama-lama di Gramedia Kupang. Walau memang seringkali salah, tapi kadang benar! Di lantai tiga ini setelah berputar sejenak aku menemukan dua buah buku, yang saya kira sangat cocok untuk dibawa pulang. Buku apa? Sabar dulu, coba dengar lantunan lagu-lagu pop natal itu. Sudah natal, belum?

TB Gramedia Kupang sedang sibuk berdandan, merias diri menyongsong natal. Dan bukan saja di tempat ini. Sepertinya warga Kota Kupang tak sabar lagi mau Natalan.  Ada salah kaprah memang, baru bulan November, aroma natal sudah merebak ke mana-mana. Padahal untuk orang katolik, misalnya, tahun liturginya saja belum selesai, mana masih harus Adventus lagi. Tapi, ini memang lebih ke situasi pop-culture dan bahkan upaya marketing gimmick [istilah asal comot, pas ko sonde?], bukan persoalan religi dan tetek-bengeknya. Kau punya pendapat lain?

Oh ia, kedua buku tadi adalah kumcernya Rm Mangunwijaya, dan kumlet[?]nya Gerson Poyk. Aku kembali ke lantai dua, berputar-putar kebingungan di situ, menikmati pengelompokan rak buku yang agak berbeda dengan saat terakhir aku berada di sini J. Ada hasrat yang kuat ingin mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Apalah daya: saya bukan sedang menanak nasi jadi nasi tak bisa menjadi bubur — habis kameranya son iko tadi. Tak ada rotan akar pun jadi, he he, tidak percuma juga Guru SD saya dulu menyuruh menghafalkan pepatah ini. Ponsel Nokia X3 yang kesingnya sudah reot itu beraksi. Tapi son jadi upload ke sini. Habis saya motret sembunyi-sembunyi, son pake keker. Hasilnya payah J  Gantinya ini saja; kedua buku tadi…

Dua sahabat baru!

Saya lantas mendekati meja kasir. Nah, ini kejutan lainnya. Nona berseragam merahputih itu bertanya, “Bapak anggota member Gramedia?” (sudah anggota, member lagi). Saya cuma mengangkat bahu, ingin sekali bertanya “Bagaimana caranya?” tapi saya pikir itu sama bodohnya dengan pertanyaan “Makanan asli manakah itu?” Saya memberi kasir itu selembar seratusribuan ditambah tiga lembar seribuan. Menerima kantong putih itu, memasukkan ke dalam tas, turun ke lantai satu, keluar, ambil kunci motor, pake jeket, pake helm …..ahhh. Tanpa sadar sambil ikut menyenandungkan “Oh Holy Night”. Celine Dion memang kurang ajar!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on November 24, 2012, in Refleksi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: