Adeus, Larantuqueiros! #Sampe jumpa di tana nagi

Catatan perjalanan lainnya. Kali ini saya ke Kota Larantuka. Kota ini terkenal dengan devosi Mariani yang kental. Julukannya yang paling mashyur adalah Kota Reinha aka Kota (Maria) Ratu). Saya tak bisa menahan diri lagi untuk ke sana, ketika berada di Maumere. Jarak dari Maumere – Larantuka yang “cuma” 128 km membuat saya benar-benar ingin menginjakkan kaki di kota Reinha. Maka jadilah.

Mobil keuskupan Larantuka yang hendak menjemput rombongan dari Larantuka sudah parkir di halaman depan Wisma Nazareth. Saya lantas meminta tumpangan. Dapat. Soalnya cuma dua orang yang akan ke Larantuka, berarti masih tersedia bangku kosong. Dan tanpa malu-malu aku menumpang ke sana.

Sebelumnya, teman saya Tatu Salvatore sudah diberitahu lewat telpon. I will come myself! Dan beliau bersedia memberikan tumpangan di rumahnya di kelurahan Lokea. Tentu ayah ibunya mengijinkan. Terutama karena keluarganya merupakan kenalan baik keluarga saya. Saya dan ayah Tatu berasal dari desa yang sama di Timor. Bukan kebetulan!

Perjalananmenuju Larantuka adalah perjalanan yang indah. Mulanya kita menyusuri pantura Maumere hingga ke sebuah tanjung. Saya tak sempat mencermati peta untuk mengatakan kepada kamu nama tanjung tersebut. Sesudah itu kita menerobos hutan lindung menuju ke pantai selatan. Di sinilah mata kita dimanjakan dengan landcape pantai yang menawan. Garis pantai selatan di ujung timur Flores yang berkelok-kelok itu, dengan pulau-pulau kecil dan gunung-gunung, membuat mata kita enggan terpejam. Paling tidak mata saya sibuk mencari-cari mana gunung yang punya jenis kelamin itu? Konon, itulah salah satu kehebatan orang Flores Timur: bahkan gunungpun mereka tahu, mana yang jantan dan mana yang betina. Ini bukan lebay! Aha, Lewotobi namanya. Dan ada berbagai nama tempat dengan awalan Lewo-  maupun akhiran -tobi tersebar di daratan Flores Timur hingga kepulauan Solor Adonara Lembata.

Setelah berputar-putar mengelilingi perbukitan, mata saya akhirnya menemukan kumpulan bangunan di tepi pantai. Mereka bilang, itu Larantuka. Bagi saya kumpulan bangunan itu seperti hendak tumpah ke laut dari kemiringan – lagi-lagi sebuah gunung lainnya: Ile Mandiri. (son sempat ambil gambar, karena tanganga!)

gembala baik menatap tana nagi

gembala baik menatap tana nagi

Lantas kita tiba di Waibalun. Beberapa meter dari pantai ada pulau Waibalun dengan patung Gembala Baik. Ojala, this is mini Rio? Gembala Baik memberkati Larantuka, dan orang-orangnya yang seharian kelakedara: sebentar ke laut sebentar ke darat🙂 Saking kecilnya Kota ini. Kota Larantuka seperti terjepit di antara gunung dan laut.

Kita tiba di sebuah simpang tiga, dengan patung Reinha berlapis emas pada sebuah taman kecil. Ke kanan, entrance, ke kiri exit. Bemvindo a Larantuka! (Saya jadi keportu-portuan ya?). Kita mengambil jalur wajib kanan dan sebentar lagi kita turun di belakang SDK Lokea. Mereka sudah menjemput kita. Mari beristirahat sejenak.

arca reinha, keemasan

arca reinha, keemasan

Alamak, kejutan lain lagi. Rumah si Tatu terletak di atas bukit dengan view ke selat Larantuka. Betapa sempitnya selat ini sehingga kita seolah-olah bisa mengulurkan tangan mencolek orang-orang di pelabuhan Tobilota seberang sana. Padahal “Itu bukan Pulau Flores lagi”,  Ayah si Tatu menjelaskan kepada kita.

Malam harinya dengan sepeda motor kita ke arah Lebao. Nama yang tidak asing untuk sebuah tempat yang asing. Di sini ada biara pusat susteran PRR dengan kapel makam Mgr Gabriel Manek SVD yang sensasional. Makam tersebut bukan di dalam tanah. Lebih tepatnya peti jenazah dalam sebuah ruang berdinding kaca. Terdapat dua makam dalam kapel tersebut. Makam Mgr di sebelah kanan panti imam, dan makam Sr Anfrida SSpS di sebelah kiri. Kau tahu siapa mereka? Sedikit informasi: Mgr Gabriel Manek SVD bersama Sr Anfrida SSpS mendirikan sebuah Tarekat yang bernama Puteri Reinha Rosari aka PRR. Anggota tarekat ini kini tersebar di hampir seluruh dunia. Khusus tentang Mgr Gabriel Manek, beliau adalah putera asli Timor – Lahurus, Baca di Wikipedia ya!

khusyuk depan makam Mgr

khusyuk di depan makam Mgr

Pulangnya lewat jalur bawah. Ada patung Pieta, yang menurut Tatu, selalu menjadi tempat jepret-jepret tamu kota Larantuka, siapapun dia, ada kapel Tuan Ma dan Tuan Ana, dan masih menurut Tatu, hanya dibuka saat-saat tertentu. Dan kesibukan Larantuqueiros berpesta permandian. Ada anak yang menerima sakramen pembabtisan pagi tadi di katedral. Maka malam ini ada acara ramahtamah. (saya pikir, ya ini cuma dalam benak saya, kok cuma permandian ju bosong heboh deng pesta!). Hingga kami tiba di Patung Emas tadi lantas berbalik ke Lokea.

pieta, midnight in larantuka

pieta, midnight in larantuka

kapel Tuan Ma, banyak cerita

kapel Tuan Ma, banyak cerita

Larantuka itu kota kecil yang genit, kenes dan lumayan cantik. Belum lagi orang-orangnya bicara dalam bahasa Melayu Larantuka, Di telinga saya itu kedengaran seperti Bahasa Indonesia super ekstra hemat. Jauh lebih hemat dari Melayu-Kupang, -Ambon, ataupun -Papua. Tuturkata orang nagi ditingkah debur ombak adalah musik harian di kota ini, selain adzan subuh, renungan pagi dan doa angelus.

Dan karena kota yang sangat tidak besar, maka semua orang kita kenal. Yah, tidak butuh banyak waktu untuk keliling Larantuka. Bukan berkeliling, karena sulit melakukan perjalanan dengan sudut 360 derajat. lebih tepat menyusur, seperti kalau kita menyusur kali Benenain. Dan karena itu cukup sehari kita berada di sini, dan saya pikir kita sudah mengenal semua orang di Larantuka. (Atau memang saya sudah malas bercerita?)

ile mandiri di belakang tu

ile mandiri di belakang tu

Sampai Jumpa, di nagi!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Oktober 2, 2013, in Refleksi, wisata and tagged , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. asek hahaha di tunggu kedatangannya lagi ow

  2. Gregorius Sasono Seputro

    Romo Patris Allegro menarik sekali tulisannya jadi pengin saya ke Latantuka…karena bulan Nopember 2012 saya hanya sampai Ende…saya tunggu tulisan yang lain. salam …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: