Malam Babasa III: Launching Buku #KanukuLeon

Malam Baomong dan Babaca Sastra (Babasa) yang dilaksanakan tiap bulan oleh komunitas-komunitas Sastra di Kota Kupang, sudah memasuki pertemuan ketiga. Pertemuan yang berlangsung setiap bulan itu berlangsung di Alpi Studio & Café, Jl. Palapa Kupang.

Babasa III kali ini, menjadi ajang peluncuran buku Kanuku Leon dari Dicky Senda. Kesempatan pertama dalam pertemuan itu diberikan kepada Dicky untuk membagikan pengalaman proses kreatfinya dalam menelurkan Kanuku Leon. Dicky mengaku kalau dia sangat terinspirasi dari perjuangan Ma’Leta untuk alam NTT, khususnya tanah Mollo. Untuk itulah Kanuku Leon dipersembahkan. Dan dengan demikian Kanuku Leon menjadi ajakan untuk sadar lingkungan. Gambaran ini bisa langsung muncul di benak pembaca begitu melihat rancang kulitnya. Ketika Saya bertanya bagaimana pengaruh penulis Bilangan Fu, terhadap kisah-kisah Kanuku Leon, penulis yang sehari-hari menjadi guru BK di SMP Katolik Santa Theresia Kupang ini, bilang dia mengenal sastra “serius” dari karya-karya Ayu Utami. Dan sejak berkenalan dengan Saman pada masa SMA, sejak saat itu ia tak pernah melewatkan karya-karya Ayu Utami. (Mungkin termasuk artikel-artikel Ayu Utami di Majalah HIDUP, ko?)

Setelah Dicky diserang dengan berbagai pertanyaan dari para peserta, –tapi dia tidak kesulitan menjawab- toh bukan pertanggungajawaban skripsi tentang lingkungan hidup – mulailah seremoni peluncuran Kanuku Leon. Dicky didampingi cerpenis Amanche Franck, penyair Mario F Lawi dan  Kak Gusti Brewon (yang senang memperkenalkan diri sebagai Lelaki Panggilan Smile). Seremoninya mengikuti tatacara klasik: mengangkat buku dan melambaikan kepada para peserta: tentu dengan rekaman kamera… seperti gambar di bawah ini:

deki

seremoni klasik

diki

berbagi pengalaman proses kreatif

dicky

tandatangan untuk pembaca

Sesudah itu, pembawa acara memandu satu persatu peserta untuk membaca puisi. Rupanya karena duakali absen dari pertemuan tersebut, Dody Dohan langsung mendaulat saya menjadi orang pertama. Kaget karena tak menyangka akan membuka acara Babasa, saya lantas memilih kumpulan puisi sekenanya yang kebetulan ada di meja Kak Gusti Brewon. Ketemulah Chairil Anwar dengan puisinya Merdeka. Hah, kebetulan sekali, moto tahbisan imamat saya adalah seputar kemerdekaan Smile. Lihat Yoh 8:32.

Peserta Babasa cukup beragam. Ada yang memang terkenal sebagai sastrawan, ada yang malah terkenal sebagai perancang busana/kaos, ada yang seperti saya, suka baca sastra tapi sulit menghasilkan tulisan.

Ada penampilan khusus dari Standup comedy Kupang dan Romo Amanche Franck. Kali ini kreasi Amanche Franck adalah, menyanyikan lagu Portu dengan variasi gaya Dawan. Nah, ada-ada saja kreativitas pelantun Adik Menangis Satu Malam ini.  Selalu saja tampil dengan penuh kejutan, dan gayanya yang sangat Dawan….

Baru pada jam sebelas, kami bubaran. Sampai ketemu pada Babasa berikutnya, Babasa IV, di tempat yang sama.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Desember 5, 2013, in Budaya, Puisi, SASTRA. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: