Dansa Timor dan Kebutuhan Kontak Fisik

Usil Asal Usul

Saya tidak tahu pasti apakah tradisi dansa-dansi di kalangan orang muda di tanah Timor, dikenal juga dalam tradisi masyarakat lain di Indonesia. Ada banyak pendapat yang setuju bahwa tarian pasangan pria-wanita itu dibawa oleh orang-orang Portugis ke Indonesia, dan terus bertahan di tanah Timor (Timur). Kalau pendapat ini benar, rupanya kita perlu mencari tahu kenapa tarian ini tidak begitu populer di Larantuka/Solor dan Sikka (mereka ini juga pernah babak belur dizolimi Portugis :))

Intinya, bahwa tarian “tradisional” itu terus mengganti-ganti wajahnya seirama dengan perkembangan jaman. Rupanya yang “penting” dari tarian ini adalah kedua pasangan bisa saling bergandeng/berpelukan dan berayun mengikuti alunan musik. Ini penting mengingat salah satu fungsi tarian ini adalah usaha mencari jodoh.

Dinamis

Di tahun 1980-an, –waktu saya baru saja hidup— ritme yang populer untuk mengiringi dansa adalah waltz, country dan rock’n roll. Para biduan seperti Alain Jackson, Dolly Parton, Vince Gill, dkk sangat akrab bagi para pencinta dansa. Sekarang, gaya itu dianggap gaya klasik dan elit. Selera lebih berpindah ke style music ala chachadut, dan bukan lagi bergantung pada musik-musik impor.

Selera yang terus berkembang ini menguntungkan para pemusik lokal. Maka bermunculanlah artis lokal dengan produksi musik yang menjawabi kebutuhan para penari dansa. Ciri khas music yang umumnya digubah dengan peralatan digital ini berupa perpaduan unsur-unsur ritmik Timor dengan beat style “leluhur” seperti Walzt, Bossa, Rhumba dan tentu Country. Muncul genre “dansa Timor” yang bisa dirunut kelahirannya di Kota Dili, Oekusi dan Kefamenanu.

Baik atau Buruk?

Ada dua hal yang boleh dicatat di sini. Pertama perkembangan ini memajukan industri musik lokal. Bermunculan para penyanyi dengan produksi musik dansa. Ada yang bertahan hingga mencapai dasawarsa, ada yang seperti kebanyakan industri musik pop lainnya, hilang muncul begitu saja.

Yang kedua, karena bertujuan untuk mengiringi tarian dansa ini maka ritmik lagu lebih diutamakan ketimbang syair. Orang Timor rupanya tidak terbiasa dengan musik instrumental. Maka sebuah musik pengiring dansa tanpa syair akan dianggap aneh. Satu-satunya instrumental yang diterima adalah potongan lagu sadis-horor: Potong Bebek Angsa. Syair dan musik akhirnya menjadi dua hal yang berbeda. Kalau musiknya sudah pas sebagai pengiring dansa maka syairnya menjadi tidak begitu penting, apa itu tangisan duka seorang anak yatim piatu atau ungkapan hati seorang jejaka pengangguran terhadap seorang mahasiswi.

Kebutuhan akan Sentuh-menyentuh

Benar genre musik pengiring tradisi dansa muda-mudi Timor akan terus berubah-ubah, namun intinya sebagaimana disebutkan di atas, akan tetap sama, sebab itulah pentingnya sentuhan/kontak fisik antara lawan jenis. Di luar kegiatan berdansa, ternyata menyentuh lawan jenis itu bukan hal yang biasa, dan bahkan cenderung taboo. Hanya dalam kegiatan dansalah muda-mudi bisa saling menyentuh tanpa merasa ada beban moral-adat. Selamat bersentuh-sentuhan.

Satu lagi tentang kontak fisik ini. Tradisi Timor sekalipun itu suami atau istrimu, sentuhan fisik di tempat umum itu “sesuatu sekali”. Maka “pelampiasannya” ada dalam bentuk tarian. Bonet, misalnya, kau bebas menggandeng siapa saja tanpa perlu merasa takut. Konon, dulu aturan menari bonet adalah pria dan wanita harus berselang-seling, jadi dipastikan kau akan menggandeng lawan jenis, di kiri dan kanan. Nah, terpenuhilah hasrat akan sentuhan: suatu kebutuhan afeksi yang sangat manusiawi…

Ke depan

Nah, tempora mutantur. Di dunia sekarang di mana sentuhan fisik sudah menjadi sesuatu yang biasaaaa sekali antar lawan jenis di tempat umum, kecil kemungkinan dansa Timor masih akan tetap menarik minat muda-mudi. Di tambah dengan banyaknya kritik terhadap kegiatan pesta-pesta orang Timor, suatu saat nanti — okelah tak perlu berkecil hati — dansa Timor hanya akan menjadi kegiatan perlombaan dalam rangka ulangtahun sesuatu, seperti nasib tari-tarian tradisional di Timor lainnya.

Semoga hal ini tidak sampai terjadi!

 

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Februari 19, 2014, in Budaya and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. semoga jangan sampai terjadi om..😦 sedih kalau kita lagi- lagi kehilangan warisan budaya leluhur..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: