Salam Paskah dari Sabu Raijua

Ceritanya bergulir seperti ini. Saya diminta oleh pengurus jemaat Paroki Santu Paulus Seba untuk merayakan Paskah di sana, membantu Pater Franz dan Pater Aroon. Pater Aroon diboyong suster Susi ke Raijua, ada dua stasi di sana yang membutuhkan pelayanan. TInggal beberapa stasi di daratan Sabu yang masih membutuhkan pemimpin liturgi Paskah nanti.

Saya dan frater Deo Parera  berangkat ke Seba pada hari Rabu, menjelang Kamis Putih. Pesawat Susi mendarat dengan mulus meski sempat terhambat gumpalan awan tebal. Kota Seba baru saja bergeliat. Saya dijemput Bapak Patris Boro menuju penginapan Bapa Octo R Djo Naga. Di rumah penginapan yang bernuansa familiar (tersedia makan dan minum — sedikit beda dengan penginapan lain di Seba, yang hanya menyediakan snack, dan urusan makan ditanggung sendiri-sendiri). Kota Seba baru saja bergeliat. Pukul delapan pagi. Kelihatan banyak yang berarak dengan buntalan barang. Kata Pak Patris mereka akan kembali ke Kupang. Kota Seba menjelang hari raya akan jadi sepi karena banyak orang mudik ke Kupang. Mudik? Bukan, masuk kota maksudnya.

Penjadwalan perayaan paskah ternyata memakai rotasi. Setiap pemimpin liturgi, saya, Frater dan Pater Frans akan pergi ke setiap tempat sesuai jadwal untuk merayakan misa, mulai dari Kamis Putih, kemudian berpindah tempat untuk Jumat Agung dan seterusnya hingga perayaan Oktaf Paskah.

Saya kebagian tugas merayakan Kamis Putih di Kecamatan Liae, Jumat Agung di Kecamatan Hawu Mahara, Sabtu dan Minggu Paskah di Kota Seba, Senin Oktaf Paskah di Eimau dan Jiwuwu, Sabu Tengah.

Umat Katolik Gereja Santu Fransiskus Mehona adalah umat terbanyak di wilayah Sabu. Mereka kebanyakan merupakan “pendatang baru” dari agama asli orang Sabu. Kesulitan pelayanan di sini adalah bahwa mereka belum memahami ajaran iman katolik dan terutama tata liturgi pekan suci. Mau tak mau, perayaan liturgi Malam Kamis putih disertai juga dengan katekese liturgi seperlunya. Saya menjelaskan makna ritus pembasuhan kaki lantas pak Ricky, sang guru agama menerjemahkannya ke dalam bahasa Sabu.

Di Perema – Hawu Mehara, umat yang ikut ibadat Jumat Agung lebih sedikit jumlahnya. Ada dua lansia yang ikut serta dalam ibadat itu dan dengan khususk mengikuti ritus penyembahan salib.

Di Kota Seba, banyak umat yang bukan kelahiran Sabu. Mereka banyak berasal dari Timor dan Flores. Kegiatan liturgis di sini berjalan lancar, karena mereka setidaknya tahu dan mempersiapkan perayaan dengan baik. Di Eimau, Sabu Tengah, ada duapuluh orang yang dipermandikan menjadi katolik. Lima diantaranya adalah anak remaja, yang orangtua mereka masih memeluk agama asli Sabu. Mereka tertarik menjadi katolik karena pendidikan agama di sekolah.

Di Jiwuwu, masih merupakan wilayah Sabu Tengah, hanya ada sepuluh orang. Bapak Zakarias, perintis Gereja Katolik di sini dan keluarganya. Kapel mereka sedang dibangun, belum diberi dinding. Kami merayakan ekaristi dengan ditonton beberapa ekor babi yang diikat dibawah pohon di samping kapel. Ada juga umat di Bolou, Sabu Timur, tetapi saya tidak punya jadwal ke sana.

Senin sorenya ada pawai paskah tingkat Klasis Sabu Raijua GMIT. Ada undangan juga untuk OMK Paroki Seba. Sore itu jalanan kota Seba macet. Saya dan frater, alih-alih menonton pawai yang hingar bingar itu, memilih ke luar kota ke arah Raedewa, memotret  sunset di Laut Sabu.

Nuansa Paskah di Kota Seba sangat terasa. di setiap sudut jalan ada tiga salib berjejer dengan dililit kain ungu. Gambaran ketiga salib Golgota. Berdasarkan sejarah Portugis dan Belanda, wilayah Sabu merupakan wilayah zending Protestan Calvinis. Jemaat di sini merupakan anggota Gereja Masehi Injili di Timor. Selain GMIT ada juga GBI yang secara proaktif mengadakan penginjilan, dan tentu saja Gereja Katolik, yang sekalipun kecil namun kuat.

Gereja Katolik Seba mulai bertumbuh dengan dibukanya dua sekolah katolik di desa Mehona – Liae dan Desa Tanajawa – Hawu Mahara. Kedua sekolah inilah yang berperan besar dalam mendidik anak-anak dari penduduk asli Rai Hawu menjadi katolik. Dengan adanya otonomi daerah Sabu Raijua – ada banyak orang dari luar Sabu yang datang dan mengabdi untuk Sabu Raijua, dan tentu saja agama yang mereka anut pun turut berkembang di sini – termasuk agama katolik.

Sabu, tidak lagi menjadi daerah kristen ekslusif. Sabu Raijua, dengan terbukanya isolasi akibat transportasi yang sulit – kini telah bersiap menjadi daerah bhineka tunggal ika, seperti saudara-saudaranya yang lain –Rote Ndao – Lembata dll.

Salam Paskah dari Rai Hawu Nusa Seribu Lontar !

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on April 22, 2014, in Budaya, wisata and tagged , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Dear Sir;

    You was there?I alwaqys try to contact Pater Franz Lackner via facebook,but he not reacts,so probably he not erally uses the fb much.You have somethi g to do with Savu?I am looking for more info about the adopted son Yahya Bireludji of last raja of Seba/savu.Raja David daud Bireludji.Aftre his adopted father died he went to Surabaya,but he was made before calon pangeran makhota.I wonder,what became iof him,if he is still alive and how to contact his family.I am interested innames also of the other dynastychiefs,ir contact the other dynasties.Also:I am looking for more info about the 2 calon maromak oan in Belu.The one in Haitimuk died recently.Maybe you know hios succesor.The other still laive in Laran.Some say you only can talk about keser now,because with introduction of Roman Catholic agama the maromak oan system ended. Thank you. I am researcher kerajaan2 Indonesia and I hope to do some research in that area in june/july. Thank you.

    Salam hormat:
    DP Tick grRMK
    secr. Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka”

    • Salam hormat! Saya berada di Sabu untuk membantu Pater Franz Lackner dalam perayaan Paskah. Rupanya Pater Franz memang sengaja tidak mengakses akun jejaring sosial miliknya selama perayaan paskah ini. Beliau sedang menghindar untuk diliput oleh tim dari Kedubes Austria. Karena sangat sibuk dengan urusan perayaan Paskah, saya tidak sempat mencari tahu tentang sejarah raja-raja di Sabu ini. Mungkin di lain kesempatan nanti.

  2. Thank yiu Sir.I know much about nearly all the dynasties of NTT,only sabu raijua is a problem.All info abouty the rajas 1945-2014 in interesting.Fettors also. Thank you. Salam hormat: DP Tick pusaka.tick@kpnmail.nl PS: My firend Dr Hans Hagerdal with colleague Mrs Drs Genevieve Dugan noiw makes a book about the kerajaan2 Sabu Rijua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: