Pantai Kolbano: Tempat Wisata dan Lahan Tambang

Prius opere deinde verbo. Bikin dulu baru ngomong! Bagaimana bisa membangga-banggakan diri sebagai orang Timor, padahal tempat menarik di Timor saja saya tidak tahu? Akhirnya, kemarin  saya memutuskan untuk berangkat menyambangi dua tempat terkenal di TTS dengan wisata pantainya: Kolbano dan Oetune. Letak kedua tempat itu tidak berjauhan dan bisa disambangi dalam sekali jalan.

Pagi sekali jam lima saya memacu sepeda menyusuri jalan timor raya, menuju ke arah So’e. Persis setelah jembatan Noemina, di pertigaan jalan saya memilih masuk ke kanan (karena memang begitu rutenya). Setelah melewati perbukitan kecil yang berkelok-kelok akhirnya saya memasuki Panite, pusat kecamatan Amanuban Selatan. Sebenarnya ini sudah wilayah selatan swapraja Amanuban dulu, yang mencakup Pnite, hingga ke Kuanfatu. Kolbano sendiri masuk wilayah tengah Swapraja Amnuban, meski masih dalam satu bentangan dataran Bena.

DSC_2480

Dataran Bena – awan kelabu

DSC_2481

Ray of lights di atas perbukitan

DSC_2482.jpg

Mencoba sudut pandang lain – tapi kok sama saja ya?

 DSC_2484 Dangau, atau ‘Sane

 

Hari Jumat seperti ini tak banyak wisatawan ke sana, sehingga kondisi jalanan lumayan sepi. Saya hanya bertemu dengan kendaraan proyek. Konon di Kolbano sana ada proyek “pembelahan bukit” untuk jalan yang lebih baik. Perjalanan saya sebelumnya ke kawasan ini baru mentok pada dataran persawahan Bena. Di mana dan seberapa jauh persisnya letak Kolbano dan Oetune saya hanya mengandalkan insting: pantai Selatan harusnya ke arah Selatan, atau berdasarkan bentangan Pulau Timor dan Posisi desa Bena, maka perjalanan saya seyogyanya mengarah ke Tenggara.

Tidak sulit, ternyata, karena jalan paling mulus, seperti yang dicatat para blogger traveling, adalah perjalanan menuju Kolbano. Saya menyusuri dataran Bena-Kualin, sambil sesekali mengambil gambar. Saya ingat kalau saya harus melewati dua jembatan berpalang kayu. Satu sudah saya lewati, tinggal satu lagi. Tidak mudah menyeberangi jembatan seperti ini karena palang kayunya sudah rusak, beberapa pengendara, terpaksa turun dan menuntun sepedanya. Bagi saya sih cukup mudah, saya terbiasa menyeberangi jembatan jenis ini setiap kali balik ke kampung saya.

DSC_2658

Ini jembatan yang butuh perjuangan…

Waktu menunjukkan pukul sembilan ketika saya tiba di pantai Kolbano. Bukit besar di ujung pantai seolah menghentikan saya dan berkata: This IS Kolbano ( Iya, bisa bahasa Inggris). Dengan segera kawasan ini bisa dikenali kembali dari foto-foto yang tersiar di dunia maya. Itu pasti Fatu Un dan ini- oh ini mereka para penambang-kerikil tradisional.

Untitled_Panorama1

Saya mendekati bukit batu besar. Ada sekelompok manusia di sekitar … Fatu Un, nama bukit batu itu.  Ketahuan mereka dari Kota So’e, logat bicara yang ditegaskan dengan tulisan pada angkutan mereka. Saya memarkir sepeda dan bergegas tak sabar ke Fatu UN. Langit berawan tebal, sinar mentari seolah bermain “kucing kaleng” dengan saya. Gelora samudera Hindia menghempas di depan mata. Aiiihhhh, satu-satunya yang terpikirkan saat itu adalah, How Great Thou Art! Tuhan, betapa indah ciptaanMu. Fatu Un, konon batu ini berbentuk wajah manusia, saya tak berhasil mengidentifikasi, – penuh dengan coretan grafitti, ulah anak-anak sok berani seniman… tapi indah juga membaca deretan tulisan aneh di sana sini. Mata saya silau, menatap gelora ombak yang putih susu dan kilauan cuatan Fatu Un. Dan saya tidak berani beranjak ke atas, menaklukkan Fatu UN.

DSC_2494Sun, Sand,  …. Sendiri!

DSC_2499

Gelora titipan dari Samudera India

Saya beranjak dari Fatu Un menuju ke bukit yang sementara dipreteli lima sampai enam excavator. Pelebaran jalan yang menggeluti bukit besar. Di kiri tebing, di kanan jurang, dan bebatuan pantai Kolbano menunggu di bawah sana. Mulanya saya berencana ke atas jalan baru itu. Tapi karena kesibukan exca cukup produktif: hampir setiap detik ada hamburan debu dan kerikil di sekitar, maka saya menurungkan niat, dan mendekati para pekerja tambang kerikil. Suasana ramai di antara tumpukan pasir dan kerikil. Yang mengumpulkan batu kerikil, agak adem dengan karung-karung mereka. Yang sibuk justru mereka yang mengumpulkan pasir. Siap dengan ember di tangan, setiap kali air surut, mereka menggaruk pasir dengan tangan dan memasukkan ke dalam ember plastik ukuran sedang, secepat mungkin hingga gelora berikutnya tidak menerpa mereka. Ritmis sekali, setengah basah mereka, dan kelihatan mereka cukup menikmati permainan kejar-kejaran dengan ombak itu. Tapi bisa jadi saya yang lebih menikmati. Misalnya, ketika seorang ibu-hampir-nenek-nenek bergegas menghindar dan keburu dihempas lidah ombak, sekujur tubuhnya basah, dan saya hampir tak dapat menahan ketawa. Yang lain rupanya tak peduli, sedang menanti untuk turun main berikutnya sampai ember sedang itu penuh, dan dikosongkan di tumpukan tertentu. Dan putaran itu berulang kembali.

DSC_2516

Seorang penambang kerakal … jauh lebih santai dari penambang pasir

 DSC_2526

Beramai-ramai mengeruk UANG — ujung-ujungnya ya untuk para elit

Sempat terpikir apakah tambang seperti ini tidak merusak alam pantai ini? Cieeh, ini bicara tentang politik ekonomi ya? Yang pro rakyat pasti bilang tidak apa-apa dibanding para  penambang elit, sementara yang pro lingkungan sudah pasti tidak setuju. Intinya, oleh pemerintah setempat mereka tetap diperbolehkan menambang, kecuali – konon – beberapa meter radius Fatu Un. Tuh kan sama saja. Sekitar Fatu Un khan tidak banyak kerikil dan pasirnya. Saya? No comment. Kenyataannya, mereka para penambang ini menjual murah… yang untung tetap saja para elit ekonomi. Di sini dijual per karung, di sana dijual per ons. Harga sama, satu beda!

Sebelum melanjutkan perjalanan balik ke Oetune saya sempat melihat-lihat makam Belanda, sekita pantai itu juga. Sebuah prasasti menandai makam itu, di bawah rerindang pohon asam, dan perawatan yang ala kadarnya. Suasana hening di sini. Rest ini peace. Terbaca dari prasasti ada 17 jenazah di situ, dimakamkan tahun 1907, satu sersan, lainnya kopral. Tiga Belanda, lainnya Jawa. Saya kepingin tahu bagaimana ceritanya?

DSC_2532DSC_2537

Sempat terlintas pikiran, bagaimana kalau — ya andaikan saja — seseorang milyuner dari belanda, atau seorang jutawan dari Jawa, minimalnya, datang ke Kolbano lantas mengaku, salah satu jenazah itu eyangnya, dan dia mau menetap di Kolbano dan berbuat sesuatu di situ. Yah sesuatu lah, yang baik-baik untuk Kolbano …. Saya juga ingin tahu adakah peziarah yang ke situ dan mengaku salah satu jenazah di situ adalah jenazah keluarga? Entah!

Sebelum meninggalkan Kolbano, saya sempat mengambil gambar bakal dermaga Kolbano. Baru terdiri dari pondasi dan tumpukan besi baja. Tak ada aktivitas di sekitar itu. Mungkin pemerintah masih fokus pada penanganan jalan. Yang pasti, kelak hanya pelaut ulung yang bakal berlabuh di dermaga ini.

DSC_2527

DSC_2530

Saya pun meninggalkan Kolbano dengan puas. Mendung sejak tadi akhirnya mengguyurkan gerimis. A nice farewell, I think!

Tapi satu hal yang boleh dicamkan, Pantai Kolbano adalah tempat wisata bagi orang kota, tetapi tempat kerja untuk orang sekitar. Sampai kapan Fungsi ganda ini bisa bertahan?

Next trip soon: Oetune Beach! #Bersambungsegera!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Juli 5, 2014, in wisata and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. indahhhhh bingiiiiit pantainya……
    kpn ya aq bs bermain air dsana…..????
    lam kenal romo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: