Ritus Atap Rumah Baru

Awal Juli yang lalu kami sekeluarga berkumpul di rumah tua, milik ayah dan ibu a.k.a rumah masa kecil dahulu. Kegiatan bersama kali ini adalah bersama-sama mengadakan ritus untuk pengatapan rumah baru. Sebuah rumah sederhana pengganti rumah tua yang sudah uzur. Rumah berukuran 9×7 itu baru rampung seperempatnya. Ritus ini dimaksud untuk pengatapan.

Setelah seluruh kerabat dan kenalan berkumpul dimulailah ritus tersebut. Imam keluarga, yakni kakak sulung saya, segera duduk di dekat salah satu tiang lopo dan berbicara dalam bahasa adat, memberitahu leluhur bahwa akan segera diadakan pengatapan rumah baru. Sekotak sirih pinang ikut diletakkan pada mezbah mini dekat tiang lopo tersebut. Menurut aturan, yang berhak menyorong lembar seng pertama adalah saudari perempuan tertua, bisa diwakili oleh putera-puterinya. 

Usai bertutur adat, kami berdoa secara katolik memberkati tukang dan peralatannya. Setelah itu babi disembelih, dan darahnya disemburkan sedikit dekat “mezbah” berupa batu bulat pipih dekat tiang altar. Beberapa lelaki lalu menerima babi yang telah disembelih tersebut untuk dipotong dan selanjutnya dimasak oleh ibu-ibu. Sedangkan  kepala tukang, segera memanjat ke bubungan, dan putera dari saudari perempuan kami yang bertugas menyorong lembar pertama seng bersiap siap di bawah. Acara penyorongan seng itu disambut dengan tepuk tangan beberapa orang, dan selanjutnya masing-masing tekun dengan tugasnya. Si tukang terus memaku, beberapa orang membantu memberikan lembaran seng dari bawah, bapak-bapak memotong-motong daging, ibu-ibu menyiapkan menu makan, anak-anak berkejar-kejaran menunggu saat makan. Tidak ada gong dan tarian tradisional, alih-alih musik DJ dari pengeras suara bertenaga solar system. Kemeriahan terus berlanjut hingga larut malam ketika tetangga mulai pamitan, dan keluarga kami masing-masing mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.

Ini videonya.

Catatan tentang video: saya masih mencari tahu siapa pemegang hak cipta musik pengiring video ini, kalau ada yang tahu bisa disampaikan untuk diberi kredit, terimakasih.

Ada beberapa catatan saya tentang ritus ini.

1. Orang Timor terus mempertahankan beberapa ritus tradisional dan terus menjalankannya meski caranya sudah tidak melulu tradisional. Misalkan kostum “imam” tradisional tak lagi dikenakan. Yang paling penting rupanya adalah inti dari ritus itu, tujuannya adalah demi memohon perkenanan para leluhur (dan menyampaikannya kepada Uis Neno Amnanut) agar pekerjaan membangun rumah ini lancar tak ada aral dan rintangan.

2. Hal-hal penting yang dipertahankan dalam ritus atap rumah ini adalah: korban sembelihan yakni seekor babi, ketentuan tentang siapa yang memberi lembar seng pertama (atau dulu ikatan lalang pertama), dan “makan bersama leluhur”. Makan bersama leluhur itu maksudnya seperti ini: nasi dan potongan daging bakar dicampur ke dalam nyiru lalu anggota keluarga makan bersama di dekat “mezbah”. Mereka yakin kalau saat itu mereka sedang mengadakan perjamuan bersama leluhur mereka.

3. Ada keyakinan kalau ritus ini diabaikan maka niscaya terjadi kesulitan: misalnya si tukang bisa celaka, atau ada anggota keluarga yang kemudian sakit atau menghadapi masalah besar.

4. Saya mengamati bahwa masih ada ikatan yang kuat antara orang Timor (minimal itu yang terjadi dalam keluarga saya) dengan leluhurnya. Apapun kegiatan “besar” yang direncanakan dan dilakukan oleh keluarga, masih perlu ada persetujuan keluarga.

5. Bagaimana hubungannya dengan iman kristiani mereka? Beberapa denominasi protestan secara tegas telah menolak tradisi-tradisi orang timor ini termasuk tradisi mengunyah sirih pinang, Gereja Katolik masih terus melakukan studi mendalam tentang inkulturasi terhadap tradisi-tradisi Timor ini, meski saya akui, agaknya studi ini mengalami kemandegan dan tidak sedikit umat yang cenderung  menghayati iman kristiani secara sinkretis. Saya sendiri melihat bahwa tradisi ini tidak sertamerta salah. Ritus-ritus yang mereka lakukan asal dijelaskan benar-benar dari sudut pandang ajaran Gereja Katolik, bisa membantu mereka untuk lebih dekat dengan Yesus Kristus.

6. Bagaimanakah sudut pandang Gereja Katolik itu? Saya merasa bukan saatnya untuk menjelaskannya di sini.

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on September 10, 2014, in Budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: