Menerjang Hujan (dan Banjir) di Kota Kupang

Setelah ikut-ikutan latah mengutuk hujan yang turun seharian di Kota Kupang  hari ini, akhirnya aku sendiri harus menerjang hujan. Malam ini aku mesti ketemu teman-teman di kawasan Kotabaru. Sudah jam tujuh malam. Hujan pergi menyisakan aspal yang beruap dan licin. Udara masih terasa dingin hingga aku melapis dua jaket untuk menahan terpaan angin. Dengan sepeda motor yang juga kebasahan kena percik hujan di teras rumah tadi, aku mengendara menuju keramaian Kota Kupang.

Di dekat jembatan Liliba, gerimis kembali lagi. Banyak orang mulai meminggir untuk berteduh. Gerimis bertambah deras sehingga usai menyeberang jembatan, aku mesti mencari tempat berteduh. Aku basah sebagian. Sepeda motor kuparkir dan berlari kecil menuju satu di antara deretan kios kecil depan Tugu Bundaran PU – rupanya sebuah konter pulsa – dan bergabung bersama puluhan orang lainnya yang sudah lebih dahulu berteduh. Mereka juga tak ingin diganggu hujan.

Sambil menunggu hujan yang semakin menderas, iseng-iseng aku mengikuti percakapan dua orang pemuda di samping saya. Aksen orang Soe, meski mereka sedang berbicara Melayu Kupang dengan lancar. Cerita mereka adalah seputar sepedamotor Yupiter MX milik salah satu dari mereka yang dipermak a.k.a dimodifikasi sesuai selera: ganti ban, ganti setang dll. Aku tidak begitu paham soal modifikasi sepedamotor. Selain itu ada kisah menarik dengan setting di Kolbano dan sekitarnya, bagaimana si pemuda yang satu dengan rantai sepedamotor yang putus dan menunggu bis untuk dimuat, sementara hujan deras, dan banjir semakin meluap naik, di Oebelo, di jalan menuju ke arah Kolbano.

Sementara itu dua pemudi di sebelah kiri saya sibuk menadahkan tangan keluar mengecek apakah curah hujan cukup bersahabat untuk berkendara pulang. Mereka dari Sikumana dan sudah lapar. Mereka lantas saling mengajak untuk mengupdate status facebook mereka. Kukira statusnya tidak akan jauh berbeda dari yang ada di timeline FB saya tadi pagi: mengutuk hujan dsb. Mereka memperkirakan curah hujan dengan sangat hati-hati, sebab menurut mereka hujan hari ini tak akan reda total sementara perjalanan masih jauh dan di tas ada berkas-berkas administrasi perkuliahan: KHS, resi registrasi yang pantang basah.

Akhirnya hujan berhenti juga. Seorang bapa mulai menstater sepeda motornya. Mungkin karena kebasahan, motor sepedanya tidak mau hidup. Setelah berkali-kali menendang handel stater berulang kali, si bapak itu menyerah. Dari saku dikeluarkan ponsel dan mengontak seseorang. SOS. Aku mendekati sepedamotor, merogoh kain lap dan menghalau butiran air pada jok. Kain lapnya basah oleh hujan, dan usaha menghalau butiran air tadi sepertinya sia-sia.

Aku memacu kendaraan menuju Rumah Keuskupan, depan Taman Nostalgia. Di depan kantor Golkar iringan kendaraan melambat. Tepat pada pertigaan menuju gereja Assumpta, ada aliran air deras. Kali yang salah jalan rupanya. Beberapa sepeda motor memilih untuk berbalik pulang, atau mencari jalan lain menghindari banjir deras. Sebuah sepedamotor bebek mencoba menyeberang, mesinnya mati terendam air, untunglah kali-salah-jalan selebar lapangan futsal itu sudah dilewati.

Setelah melewati selokan-nekat-salah jalan itu, di depan gedung museum, bertebaran kerakal-kerakal, yang rupanya dibawa air dari tepi pagar museum Negeri Kupang. Pengendara masih harus diuji: kesabaran, ketabahan, kedinginan dan kebasahan. Aku tiba di penginapan dengan hampir basah kuyup. Banjir tadi cukup dalam dan deras. Seluruh mata kaki ku di atas pedal Honda MegaPro terendam dan aku sempat merasakan hentakan arus air.

Dari situ saya tahu kalau selama ini  drainase kota tidak diperhatikan dengan baik, oleh yang berwewenang. Mungkin karena curah hujan di Kupang yang sedikit, parit dan selokan-selokan di pinggir jalanraya, sama sekali tidak diurus dengan baik. Pertigaan gedung Golkar ini adalah satu titik di antara sekian titik yang berlimpah genangan air ketika hujan tiba dan otomatis melumpuhkan lalulintas kota.

Momen ini cukup menarik dan boleh dipromosikan sebagai salah satu aset pariwisata musim hujan, sayang sekali, saya sungguh menyesal karena kamera tertinggal di rumah. Karena takut kamera kebasahan, akhirnya momen menarik ini cuma bisa tergambar dengan kata-kata.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitu mau balik dari Penginapan Keuskupan, ternyata helm saya diambil orang. Tadi disimpan dekat beberapa helm lainnya, di tempat yang cukup aman, tapi kok helm saya yang diambil orang? Kemungkinan ada yang meminjam tanpa sepengetahuan tapi lupa mengembalikan, akhirnya stelah putar cari sana-sini, saya pulang dengan helm pinjaman, dan janji akan datang lagi untuk mengembalikan pengaman kepala tersebut kepada pemiliknya. Sementara dalam hati mulai hitung-hitung, apa uang saku cukup untuk sebuah helm baru, lagi?

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Maret 8, 2015, in Refleksi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: