NTT Menolak Tambang

Masyarakat NTT sedang gencar melakukan gerakan Menolak Pertambangan. Aktivitas pertambangan dipercaya akan merusak lingkungan hidup dan menyengsarakan rakyat di sekitar kawasan tambang. Gerakan ini dipelopori oleh berbagai macam LSM di bumi Nusa Tenggara seperti Walhi NTT, JPIC dan beruntung pula mendapat dukungan positif dari Gereja NTT.

Beberapa hari lalu sempat heboh. Para aktivis tolak tambang merasa “gusar” terhadap seorang Pemimpin Gereja yang menurut mereka tidak tegas menolak tambang. Menurut para aktivis tersebut, si kepala Gereja memberi sinyal dukung tambang karena tidak mengetahui seluk beluk pertambangan.

Bisa dipahami mengapa para aktivis ini begitu kecewa. Di NTT, peranan para tokoh umat sangat penting. Rakyat NTT biasanya lebih percaya pemimpin agama mereka daripada pejabat pemerintah. Maka sikap tokoh umat yang tidak ikut secara tegas menolak tambang sangat disayangkan. Namun, bagaimanapun juga, hemat saya, para aktivis itu tidak perlu kecewa. Dukungan tersebut hanyalah berkat tambahan.

Terlepas dari sikap tokoh umat yang “abu-abu” menurut istilah pengurus WALHI NTT itu, ada satu hal yang saya cermati dari gerakan tolak Tambang ini. Aksi tolak tambang rupanya belum mampu memberikan jalan keluar. Pokoknya jangan tambang di daerah kami. Karena tambang itu merusak ibu negeri kami. Titik.

Lebih mudah menolak daripada memberikan jalan keluar. Sementara ada aktivis yang gencar menolak tambang, seharusnya ada aktivis lain yang menyerukan bagaimana mengelola kekayaan alam NTT tanpa harus ditambang. Ini yang jarang terjadi.

Untuk sementara, masyarakat NTT masih fokus pada pengelolaan SDM. Tenaga kerja yang siap pakai itu kemudian dikirim ke mana-mana di seluruh dunia, dari para misionaris sampai para TKI.

Dan kekayaan alam dibiarkan tak terurus. Tidak ditambang, juga tidak direservasi. Hutan semakin gundul. Pekerjaan berkebun hanya diminati sedikit orang muda. Sisanya pergi, dan menambang di tanah orang.

 

 

 

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Maret 21, 2015, in Refleksi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: