#Fatuleu: Trending Obyek Wisata di Kupang

Hello World!

Sesuai janji saya, akhirnya saya kembali memanjati bebatuan Fatuleu.

Jangan ngaku anak kupang , kalau belum ke sini ...

Jangan ngaku anak kupang , kalau belum ke sini …

Dari Kupang saya berangkat jam satu siang. Hari ini hari Minggu, saya menduga akan ada banyak sekali pengunjung di sana. Jam-jam seperti ini, Fatuleu pasti padat pengunjung.

Bersama dua teman setia, Egi dan Yul, kami menuju kea rah Camplong, singgah makan siang di warung kecil di depan SPBU Oesao. Sepi warungnya, yang makan cuma kami bertiga. Yul minta diberi tambah sambal. Makan sekedar untuk melepas lapar, sekalian bagi saya – observasi – J

Di jalan masuk menuju Fatuleu, persis di tepi kali kecil Lili, beberapa pemuda meminta uang, dari setiap kendaraan yang lewat. Alasannya, mereka sedang memperbaiki jalan. Saya tidak percaya. Hemat saya ini penipuan. Dua hari lalu saya lewat jalan itu, tidak ada masalah. Kali ini mereka sengaja menggali parit kecil di tepi jalan, lalu abunya dihambur ke badan jalan yang agak berlubang. “Jalan rusak” yang mereka perbaiki itu seluas 50cm persegi. Kesempatan meraup rupiah eceran dari pengunjung Fatuleu yang sedang trend itu, bukan? Ah, saya usulkan sekalian kamu kerja jembatan saja di kali itu.

Sampai di Kaki Fatuleu, tepat pukul tiga. Alamak, tak kusangka akan sebanyak ini pengunjungnya. Seperti di pasar mingguan di kota-kota kecamatan daratan Timor. Sudah ada lopo-lopo kecil. Masih tetap tak ada karcis masuk. Hanya ada kios kecil, merangkap tempat penitipan helm. Selain itu hanya suasana pasar tradisional pedalaman Timor: orang-orang menggelar buah-buahan, sayur-sayuran, dan makanan kecil di tikar dan duduk lesehan menjajakan dagangan itu. Tak sempat direkam kamera.

Banyak kenalan dari Kupang di situ. Termasuk sepasang pengantin, yang saya (dan beberapa teman pastor berkati dua hari lalu). Rupanya mereka memilih “berhari madu” di puncak Fatuleu – lengkap dengan iring-iringingan keluarga besar. Ketemu juga beberapa OMK Naibonat yang rupanya tidak masuk daftar peserta Youth Day di Oinlasi🙂

Ke sanalah tujuan kita berlima...

Ke sanalah tujuan kita berlima…

Saya mengangkat mata ke atas Bukit Fatuleu, sudah ada tiga salib terpancang di punggungnya. Para pemikul salib itulah yang kami temui, dalam perjalanan pulang tempo hari.

Dari sela kerumunan, seseorang berteriak memanggil, “Hoi!” Rupanya Martin ‘si anak ekstrim” masih ingat wajah kami. (Baca tentang si Martin di sini) Akhirnya dia kembali menjadi pemandu kami.

Martin, lagi, pemandunya

Martin, lagi, pemandunya

Pendakian tersendat-sendat, seperti kemacetan lalulintas Jakarta. Maju sedikit berhenti, banyak yang turun, banyak yang naik, Pada tempat di sekitar salib, yang boleh disebut sebagai perhentian pertama, banyak orang bertumpuk di situ. Di sini banyak pengunjung memilih turun kembali. Inilah yang bikin macet. Di tempat itu, Martin mengajak kami melalui “jalur alternatif”. Martin bilang, Jalan potong, tapi itu sebenarnya jalan memutar. Tak apalah, asal bisa menghindari kemacetan.

Melewat tiang-tiang salib, bagi saya ini sudah sepertiga. Di sini kami mengajak Carlos, yang baru turun, untuk kembali ke atas lagi. Beliau senang-senang saja ikut. Mungkin karena memori kamera masih penuh dan baterainya masih bertenaga. Paruh tempuh berikutnya lancar-lancar. Hingga kami tiba pada tebing curam untuk ke puncak. Saya terpaksa membuka sepatu, dimasukkan ke dalam tas, dan membiarkan jemari kaki berimprovisasi dengan rongga-rongga karang. Dengan setengah merayap, kadang pakai punggung, akhirnya kami tiba ke tempat paling atas. Lega.

Hanya karena saya su lama son pegang bendera...

Hanya karena saya su lama son pegang bendera…

Beberapa orang masih berada di sekitar bendera. Sudah nyaris sepi. Namun sebenarnya inilah momen keindahan yang ditinggalkan para pengunjung: sinar mentari keemasan, yang menerobos keluar dari gemawan – sejak pendakian tadi, mentari tertutup awan, mendung – dan pantulan cahaya emas itu pada bebatuan di atas Fatuleu dan bias sinarnya di bukit-bukit sekitar dan ke pantai Teluk Kupang.

Sok cool si Carlos ini ...

Sok cool si Carlos ini …

Puncak Fatuleu terdiri dari susunan bebatuan besar, seperti tumpukan batu. Untuk mencapai tempat dimana dipancangkan bendera oleh para pendaki perintis, kita mesti naik turun bebatuan besar dan awas menghindari celah dan ceruk yang dalam. Beberapa tanaman tumbuh subur di sana, batang-batangnya cukup kuat untuk dijadikan jembatan dari batu ke batu. Jam lima, kami duduk melepas lelah di sekitar tiang bendera, menikmati udara dingin, cahaya senja yang keemasan, dan iring-iringan kendaraan yang mulai pulang.

Akhirnya tinggal kami berlima di atas: Saya, Egi, Yul, Carlos dan Martin. Serasa tanah Timor ini milik kita. Martin teriak-teriak sesuka hati, sementara kami sibuk jepret sana-sini, narsis, landscape, macro dst. Martin, ingin kami segera kembali turun. Lapar, katanya. Sementara kami terus asyik membidik gemawan yang semakin menjingga di perbukitan sebelah barat. Sunset lepas pantai sudah sering. Sensasi sunset dari atas bukit rupanya punya nuansa yang berbeda, moodnya juga beda.

Ketemu bunga ini ...

Ketemu bunga ini …

... dan bunga yang ini

… dan bunga yang ini

Sunset dari puncak

Sunset dari puncak

Kami turun, dengan memperkirakan saat mentari benar-benar lenyap, kami sudah harus berada di tempat salib.

Narsis di salib waktu turun kembali ...

Narsis di salib waktu turun kembali …

Di bawah, semua pengunjung sudah pulang. Para penjaja tadi juga sudah berkemas. Hari sudah malam. Namun mereka masih menunggu, karena ternyata masih ada tiga sepeda motor yang parkir di situ, dan terutama karena, anak mereka Martin belum turun. Di kios kecil yang diterangi lampu pelita kami mengambil helm yang dititipkan tadi dengan kartu nomor kode 23 (ditulis pakai spidol di kertas kardus seukuran pasfoto). Kami pulang bersama-sama dengan para penjaja yang rupanya tinggal di agak jauh dari Bukit Batu tersebut.

Beres-beres untuk pulang...

Beres-beres untuk pulang…

Ps. Sampah semakin tak terkendalikan. Celah dan ceruk bebatuan penuh dengan sesuatu, tinggalan manusia peradaban modern. Kalau datang lagi, mari kita sambil pilih-pilih sampah. Oke?

Please, jangan tinggalkan apa-apa di Fatuleu selain jejak kaki, dan jangan bawa pulang apa-apa, selain gambar!

About aklahat

Lahir dan besar di pedalaman Timor Tengah Selatan, tinggal dan bekerja di pinggiran Kota Kupang.

Posted on Juli 20, 2015, in wisata and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: