Dari Larantuka ke Manatuto (Catatan Bicentenario 2015)

Menurut cerita orang Manatuto yang saya temui ada legenda tentang sebuah tempat di pantai utara yang bernama Rentau itu. Dahulu kala orang –orang Rentau (nama asli kota Manatuto) yang terdiri dari empat suku: Sa’u, Ma’anbat, Alili dan Aiteas – saling berperang untuk menentukan penguasa Rentau. Peperangan terjadi terus-menerus tanpa hasil. Mereka terus saja berselisih siapa yang seharusnya menjadi penguasa dareah tersebut. Akhirnya keempat suku sepakat meminta orang luar untuk menjadi penguasa. Pilihan jatuh ke kerajaan Larantuka. Pergilah utusan mereka menghadap raja Larantuka. Akhirnya Dom Mateus datang memerintah di Manatuto. Don Mateus kemudian mangkat (atau kembali?) digantikan dengan raja berikutnya Don Mateus II, juga dari Larantuka.

Pada saat datang ke Manatuto Don Mateus II yang sudah menjadi katolik itu membawa serta patung Santu Antonius Padua. Patung itu ditempatkan di sebuah kapel kecil. Dom Mateus tiba di pantai Manatuto pada tahun 1815. Saat berada di pantai dia mencari-cari di manakah Rentau itu, dan ia saat itu seekor ayam jantan yang dibawanya dalam kapal itu berkokok. Beliau yakin kalau koko ayam itu petunjuk dari Tuhan. Sekaligus berarti itulah tempat tujuan yang dimaksud. Sejak saat itulah Rentau dinamakan Manatutu /Manututu: Ayam berkokok!

DSC_1940kapel kecil Santo Antonio

Dom Mateus II yang masih bujang itu kemudian mencari pasangan hidup. Dicarinya dari puteri raja Soibada. Saat itu banyak orang mengaku puteri raja dibawa ke hadapan Raja. Namun, lagi-lagi berdasarkan petunjuk (dari Tuhan/ alam ghaib) Dom Mateus tahu kalau mereka itu hanya berpura-pura menjadi puteri. Mereka hanya ingin agar dipersunting menjadi permaisuri. Puteri yang sesungguhnya, tidak ikut serta dalam sayembara itu. putri raja itu sedang dikurung di dapur. Ia ke Soibada dan mendapati seorang perempuan sedang sibuk melayani di dapur. Maka jadilah. Perempuan itu (yang adalah puteri raja sesungguhnya) dipersunting menjadi permaisuri. Sayang sekali pernikahan keduanya tidak menghasilkan keturunan. Pada saat Dom Mateus mangkat, Manatuto kembali ke keadaan semula, tidak memiliki raja.

Akan halnya patung Santu Antonius yang dibawa ke Dom Mateus, perlahan-lahan menarik minat orang manatuto. Segala permohonan selalu diajukan melalui Santu Antonius. Santo Antonius disapa dengan sebagai Amo Deus Coronel. Konon saat-saat dahulu patung ini sering kelayapan malam, pada saat musim sawah, turun membantu orang di sawah, pada saat musim melaut ikut membantu para nelayan. Kalau kau jalan malam dan ketemu seorang bapak tua berkepala botak, nah itu dia. Konon ada pastor yang saking jengkelnya karena patung tersebut sering kelayapan malam, ia memaku kaki patung itu agar tetap di tempat. Cerita ini mungkin hanya dibesar-besarkan saja. Namun toh setelah patung Santu Antonius diberi bingkai kaca, orang tidak lagi menjumpai orang tua berkepala botak.

Begitu besarnya devosi kepada Santu Antonius ini sehingga umat katolik dari daerah lain sering menyindir, Tuhannya orang Manatuto adalah Santu Antonius, dan Yesus hanya seorang anak kecil yang ada di pelukannya.

Saya memperhatikan bahwa di Manatuto, paling kurang ada tiga tempat di mana terdapat patung santu Antonius, di sebuah kapel kecil di pinggir jalan di suku Aiteas , di Gereja Santu Antonius sendiri dan di atas sebuah bukit yang tinggi, agak ke arah Timur kota, menghadap ke Manatuto.

Tahun 2015 ini terdapat satu perayaan besar di Mantuto: Bicentinario 2015 Amo Deus Coreonel Santo Antonio. Peringatan Duaratus Tahun Gereja Santu Antonius Manatuto dan 345 tahun babtisan pertama di Manatuto. Panitia dari Paroki Manatuto mengundang orang-orang Manatuto yang ada di luar Manatuto (terutama yang memilih menjadi warga NKRI pada saat jajak pendapat 1999 yang lalu) untuk turut menghadiri perayaan tersebut. Mereka juga mengundang raja Larantuka, karena hubungan historisitas tersebut di atas. Turut diundang Uskup Larantuka, Uskup Atambua dan Uskup Agung Kupang. Namun yang berkesempatan hadir hanya Uskup Larantuka. Ada tiga perayaan besar yang menandai puncak Bicentinario ini yakni pertama, Misa Rekonsiliasi dengan Orang Manatuto Diaspora, kedua, Misa Bicentinario 2015, dan ditutup dengan Misa Ulang Tahun Uskup Baucau, Dom Basilio do Nascimento.

1. Perayaan Rekonsiliasi, O Chalice do Reconciliacao, Jumat, 12 Juni 2015.

rekon

Misa diadakan sore hari setelah ritus adat penjemputan Raja Larantuka, Nuncio Apostolik, dan Presiden dan Perdana Menteri Timor Leste di halaman Gereja Antonius. Perayaan dipimpin oleh uskup Baucau, didampingi Dubes Vatican untuk Malaysia dan Timor Leste (Sekaligus Delegatus Apostolik untuk Brunei Darussalam), Uskup Larantuka. Dalam perayaan ini diakan ritus adat perdamaian antara Manatuto dan Manatuto Iha Diaspora, pada Bagian Tobat dalam ritus pembuka ekaristi. Para tetua ada dari kelompok masing-masing, duduk di depan panti imam lalu masing-masing bertutur secara adat, puncaknya saling bersalaman dan berpelukan. Saat itu pula semua yang hadir diajak untuk saling menyalami satu sama lain – ada yang sampai menangis-menangis – lalu Nuncio memerciki semua dengan air berkat.

asp

Perayaan ekaristi dilanjutkan. Kor bernyanyi dalam bahasa Portugis, Bahasa Tetum dan Bahasa Latin.

Usai misa ada perjamuan makan malam bersama, tapi saya dan Romo Jefri memilih pulang ke penginapan dan makan di sana. Di halaman tempat misa tadi ada pertunjukan seni dan budaya, sementara di samping gereja orang berdesak-desakan dalam acara pasar malam, kegiatan pameran berbagai macam kerajinan local dari masing-masing paroki di Keuskupan Baucau.

2. Misa Bicentinario Amo Deus Coronel Santo Antonio, Sabtu, 13 Juni 2015

PENTING

Misa puncak Bicentinario ini dilaksanakan di tempat yang sama. Misa diadakan dalam bahasa Tetum, Lagu-lagunya berbahasa Portugis, Tetum dan Latin sedangkan balihonya pake bahasa Portugis. Perayaan ini cukup lama, ada lagu hymne santu Antonius yang merdu didengar, digubah secara khusus untuk perayaan tersebut. Dubes menyampaikan homili dalam bahasa Inggris dan langsung diterjemahkan oleh seorang imam. Usai misa ada sambutan-sambutan dan saya merasa misa seperti di Vatikan (liturginya sangat ideal – salah satu karena rapinya para petugas liturgi.

Yang menarik dalam setiap misa ini adalah hadirnya pasukan adat yang meniup terompet dan memukul genderang saat konsekrasi, diiring dentang lonceng gereja, suasana terasa sangat sakral, syahdu dan khusyuk sekaligus tegang, seperti suasana genting dalam perang!

Makan siang bersama di aula paroki usai misa, lalu acara dilanjutkan dengan menonton acara berkuda. Saya tidak mengerti aturan permainan ini meski berusaha menonton dengan cermat. Ada pasukan berkuda dengan kostum warna-warni berusaha menjolok sebuah bungkusan kecil yang digantung di tiang tinggi. Mereka yang berkuda mesti menjatuhkan bungkusan yang berisi coin tersebut dengan sebatang galah. Kesulitannya adalah jolokan harus dilakukan saat kuda berjalan melewati tiang gantungan, dan ada lawan yang berkostum dari jerami berusaha mengganggu konsetrasi baik kuda maupun penunggangnya. Sesekali polisi yang berkuda dan mengenakan topeng masuk dan menghalau lawan yang terlampau proaktif. Polisi lainnya berjaga-jaga di sekita penonton menjaga mereka agar tidak terlampau dekat dengan para pemain. Saya hanya mendekat untuk mengambil gambar permainan itu sekalian mereka yang menontonnya, Saya samasekali tidak bisa menikmati permainan itu apalagi sesekali mesti dikejar polisi karena dianggap terlalu dekat. Tapi dari podium di seberang sana ada orang-orang seperti Perdana Menteri, Uskup Baucau, Uskup Larantuka, Pastor-pastor dan Suster-suster, kelihatan sangat menikmati …

DSC_2395

Hampir malam, permainan usai, giliran patung-patung yang ada di altar panggung akan diarak kembali ke dalam kapela. Para pasukan adat berbaris dengan marcing band, menjemput para pengusung dua patung santo Antonius, patung yesus dan patung maria, melewati Porta da Misericordia, masuk ke dalam kapel putih mungil itu.

logo-vida-consagrada

Oya, Kapel Santu Antonius ini relative sangat kecil tapi bangunan zaman portugis ini tetap dipertahankan. Karena kecilnya, setiap hari Minggu dan Hari Raya ekaristi dirayakan di aula samping yang tak berdinding (salao paorquial). Baru pada perayaan tadi ada ritus peletakan batu pertama untuk kegiatan pembangunan gereja yang baru. Mudah-mudahan gereja yang baru tak kalah megahnya dengan kapel mungil yang menjadi tonggak sejarah kekatolikan di Manatuto ini.

lp

3. Misa HUT Uskup Baucau, Minggu 13 Juni 2015

ban

Hari ini misa dirayakan dalam bahasa Indonesia. Konselebran utama adalah Uskup Larantuka. Koor menyanyikan pula lagu-lagu berbahasa Indonesia, oleh rombongan dari Kupang dan Naibonat. Untuk umat yang sudah hampir lupa dengan bahasa Indonesia, disiapkan teks misa umat.

Sesudah misa ada makan siang syukuran HUT Bapa Uskup. Banyak acara yang dibawakan secara spontan. Saya lebih memilih mengamati kesibukan para polisi mengatur patung santu Antonio di lapangan sana. Saya mendekati seseorang dan bertanya hendak diapakan patung(-patung) ini? Mau di bawa ke Motael. Motael ada di Dili. Rupanya itu patung milik Gereja Motael dan diarak kembali sesudah Bicentenario. Patung diletakkan di atas mobil patroli polisi dan seorang polisi wanita menjadi sopirnya. Hebat. Iringan-iringan pasukan PNTL itu mengarak Santo Antonio menuju Motael, Dili, dan saya pulang jalan kaki ke penginapan. Teman yang lain sudah mendahului sejak saya melihat-lihat kesibukan pasukan PNTL dengan patung Santo Antonio tadi. Jadilah saya berpanas-panas di sepanjang tiga kilometer di bawah terik mentari Mantuto menuju penginapan.

mota pntal

Sorenya bersama beberapa OMK dari Kupang, kami mendaki sebuah bukit. Katanya ada gua Maria di bukit itu. Tapi yang menarik bagi saya adalah bangunan tua di bukit itu. Ternyata itu adalah bangunan kediaman Administrator Portugis dulu, masih bagus meski sudah di tinggal Portugis sejak tahun 1975, namun rusak dibakar masa saat gejolak tahun 1998. Dari Gua Maria Fatima kami menikmati pemandangan senja hari di Mantuto, dan berfoto-foto narsis.

jalan jalan1 jalan3 nar

Malam ini ada acara perpisahan bersama umat yang menyediakan akomodasi penginapan bagi kami. Kali ini pembawa acara memakai bahasa Indonesia, pada acara penyambutan dulu menggunakan bahasa Tetum. Makan, minum lalu berdansa, kegiatan lazim pesta di Timor.

ad da lorosae

Keesokan harinya, Senin, pagi sekali saya kembali mendaki ke bukit gua Maria lalu menunggu mentari terbit di sana. Sungguh suatu keindahan tak terpermanai, menikmati Lorosae di Bumi Lorosae di sana. Pulangnya ditawar minuman impor, dan saya jadi mabuk. Sisa hari digunakan untuk tidur. Wow sungguh menyesal/.

Far Outliers: Dutch Bathing Practices in Kupang, Timor, 1792

Ini cerita menarik tentang Kupang tempo doeloe. Yuk, disimak:

Dutch Bathing Practices in Kupang, Timor, 1792

In 1792, American Lieutenant Amasa Delano spent some time in Dutch West Timor with the British McCluer Expedition.

A river of clean, clear water flowed through Copang [= Kupang, West Timor] to the sea; and a short distance from the mouth of the river was the bathing resort of the well-to-do residents of Copang. The families of the government officials of account and of the merchants in profitable business composed pretty much all the well-to-do people of the port. On fine days, and most days in tropic Timor were fine, they went in for bathing en masse. The bathing scene was a delight to Amasa:

“The bank of the river where they bathed was shaded with rows of fragrant trees, and under the trees were small dressing cabins. The Dutch, men and women both, donned a Malay garment for the bath, a sort of petticoat, which was tied high up on the breast, but so tied as to leave the arms free. Some of these bathing garments were of extremely fine texture, and with beautiful designs woven into them.”

Amasa and his brother officers were furnished with the same sort of bathing robes of extremely fine texture and beautiful design. “Men and women bathed together, picking out a spot with their backs to the current, and allowed the swift running water to rush over their heads, or flow around them.” Amasa was always among those present at the bathing hour. His choice of place was between two rocks; and there, with a stone against which to brace his feet, he sat in secure enjoyment of the current, without incurring danger in an absent-minded moment of being swept down-river and put to the labor of swimming back against the current. He liked to swim, and these days in Timor were for relaxation after the wearying passage from New Guinea.

While the favored people bathed, Malay slaves were setting the tables and laying the lunch in the shade of the wide-spreading, handsome trees on the bank of the river. It was the life for a sailor ashore–that is, when the sailor was an officer.

“There was the river foaming over the rocks below gently in some places, sublimely in others; and the river was on the opposite shore spreading itself out like a transparent lake with lovely scenery reflected in its calm surface.”

Amasa and his bathing brother officers would work up grand appetites while observing the tables being loaded deep with the wide variety of savory dishes. There were also oceans of fine wines. Amasa had not yet had the experience of sitting in at a party when English officials took on the job of entertaining Dutch rivals in trade; but certainly the Dutch in Amboyna and here in Timor were setting a warm pace against the day when it came the turn of the English to do the entertaining. For the prestige of that Royal Navy to which his officer shipmates belonged, he hoped said officers would rise to the occasion when it came their turn to play host. They would have to log the good knots to do so. The Dutch in Amboyna had done them well; the Dutch governor’s widow in Timor and her official aides were doing them even better:

“The Dutch in Timor gave us altogether too good a time. It may have been the too frequent bathing, and staying too long at it that brought on intermittent fevers, from which several of our officers died. These deaths from the bathing in Timor were not the first of their kind, which I have known from personal observation.”

… Not long before the McCluer visit to Timor, Lieutenant Bligh of the Bounty mutiny episode had arrived there [in 1789]. Timor was still lauding the seamanship and fortitude of Bligh and the men who had survived that long passage in that open boat, and Amasa thought the laudations well deserved. But shortly after Bligh’s departure from Timor another boat’s crew arrived there from a more perilous and far longer voyage than Bligh’s; and they made the passage with only a chart and a compass for their navigation. While McCluer’s officers were still at Timor that boat’s crew of the more perilous passage were being held in ignominy in Copang.

via Far Outliers: Dutch Bathing Practices in Kupang, Timor, 1792.