Oekusi-Ambenu: 500 Tahun Portugis di Timor (3/3-habis)

Pameran Interaksi Kultural Luso-Timorense

Tempat pameran terletak di sebuah lapangan luas yang disebut-sebut sebagai bakal sekolah Portugis, entah apa maksudnya. Yang saya mengerti ditempat itu akan dibangun sekolah semacam colegio dengan para guru berasal dari Portugis. Ada banyak stan pameran semuanya dengan memakai tenda yang sergam berwarna hijau dengan tulisan ZEESM-TL. Yang dipamerkan di sana kebanyakan tenun ikat dan kerajinan tangan Atoin Meto termasuk beberapa topeng kayu, tempat sirih pinang dan maket tugu Lifau. Di beberapa stand ada permainan membuang gelang ke botol bir. Kalau masuk birnya langsung diminum di depan stand. Artinya bir itu menjadi milik pemenang, entah mau diapakan. Yang jelas, bir yang dipakai diimpot dari Indonesia. Konon, Bir B**tang merupakan Bir terbaik se Asia.

Di tengah-tengah arena pameran terdapat panggung. Di sana para pemusik terus memainkan lagu-lagu tradisional dan modern, kebanyakan lagu-lagu pop yang sedang hits di Indonesia. Pada jam makan malam petugas berkeliling ke setiap stand dengan ransum yang sudah disiapkan. Nasi kotak dengan lauk telur bumbu dan sayur kangkung, tambah air mineral juga impor dari Indonesia. Agaknya belanja makan minum panitia dilakukan di kota-kota tetangga mungkin Atambua atau bahkan Kupang. Atau malah langsung dari Surabaya.

Suasana sekitar tak terasa asing bagi saya. Banyak orang berbicara dalam Bahasa Dawan. Saya merasa seperti berada di keramaian pasar Maubesi. Tawar menawar barang pameran terutama barang tenun ikat dilakukan dalam bahasa Tetum. Bahasa Indonesia seperti dengan mudah terucap di sini. Berbeda dengan Kota Dili yang kental Tetum bahkan Portugis, di Oekusi bahasa local, yang oleh orang Tetum disebut Baikenu lebih sering dipakai. Bahkan pengumuman dari pengeras suara tentang upacara besok juga dalam bahasa Baikenu.

Saya pulang ke pastoran setelah puas melihat-lihat suasana pameran. Sempat mengobrol dengan seorang ibu dari Oesilo. Kain tenunannya dijual dengan harga 35 USD untuk “abkase”/benang toko, dan 150 USD untuk “abmeto” benang yang dipintal secara tradisional. Kemahalankah? Kebanyakan tenun ikatnya bermotif religious: para malaikat, adegan sakramen, salib, piala, hosti, dan sebagainya. Tak ada dollar di saku. Praktis saya tak bisa berbelanja.

Salah satu stan pameran
Salah satu stan pameran
Ibu-ibu bagosip dalam baikenu
Ibu-ibu bagosip dalam baikenu
Mama Isabel dari oesilo
Mama Isabel dari oesilo
Motif Sakramen Krisma
Motif Sakramen Krisma
yang abkase 35, abmeto 150.
yang abkase 35, abmeto 150.
Narsis bareng ibu-ibu
Narsis bareng ibu-ibu
Di stan milik suster-suster CIJ
Di stan milik suster-suster CIJ
Minyak apa ini?
Minyak apa ini?

28 November, Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RDTL

Kota Pante Makassar sibuk. Banyak orang tumpah ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera. Kebanyakan adalah mereka yang datang dari Dili beberapa hari lalu khusus untuk perayaan akbar ini. Ada yang datang melalui jalan darat, ada yang pakai kapal feri dan para pejabat tiba dengan pesawat Twin Otter. Katanya itu pesawat pertama Timor Leste dibuat di Canada. Penerbangan pertamanya adalah rombongan 500 Tahun Lifau, termasuk Uskup Norberto yang menceritakan dengan jenaka pengalaman menumpang pesawat kecil itu . Kemarin pesawat kecil ini terus bolak-balik Dili-PanteMakasar untuk mengangkut para pejabat. Waktu tempuhnya hanya 30 menit dengan ongkos 65 USD.

Saat makan pagi kami rombongan Kupang, pamitan dengan komunitas pastoran. Kami akan kembali ke Indonesia. Sebenarnya saya sangat ingin menghadiri upacara bendera, namun apa daya harus segera kembali, mengingat besok hari Minggu dan harus sudah merayakan Ekaristi di Kupang.

Waktu menunjukkan pukul 10 ketika kami berada di kantor imigrasi RDTL. Setelah melintas jembatan yang menjadi tapal batas, jam berubah menjadi jam Sembilan. Perbedaan waktu sebesar satu jam itu tidak terlalu mempengaruhi kegiatan, meski di Pante Makasar tadi terasa misa paginya terlalu siang, dan makan pagi saja sudah kegerahan, apalagi Pante Makasar bercuaca panas. Di perbatasan ini, saya ketemu dua wartawan yang baru tiba dari Brunai Darussalam. Mereka ke Oekusi untuk meliput upacara kenegaraan.

Mau pi mana?
Mau pi mana?
PanteMakasar-Sakato, selamat tinggal
PanteMakasar-Sakato, selamat tinggal
Sudah di Indonesia
Sudah di luar Timor Leste
Upacara kemerdekaan dari panasnya Pante Makassar
Upacara kemerdekaan dari panasnya kota Pante Makassar

Alkhirulkalam

Oekusi sedang bergeliat membangun. Proyek khusus besar-besaran ZEESM niscaya menjadikan Oekusi ke depan magnet baru bagi para investor, pelancong dan … siapa lagi? Teman saya, Amu Abeto, bilang, Orang Oekusi mesti dipersiapkan secara khusus untuk menghadapi perubahan ini.  Proyek Zona  Khusus Ekonomi di Oekusi ini seolah menjadi pesan bagi orang Baikenu seperti lirik sebuah lagu populer: Oil ana, kaisa mkae nai bae!

Catatankaki:

Ada beberapa cerita simpangsiur tentang Oekusi, butuh pengamatan lebih lanjut. Daerah enclave ini dulu bernama Ambenu, kemudian berganti menjadi Oekusi-Ambenu, dan yang terakhir menjadi Oekusi saja. Banyak orang menyebut Oekusi (temasuk untuk menyebut ibu kota Pante Makasar yang dulu pernah bernama Villa Taveiro). Konon, Ketika Portugis tiba di Lifau, Raja Ambenu dan Raja Oekusi yang menerima mereka. Namun kemudian, Raja Ambenu rupanya menolak kerjasama dengan Bangsa Portugis, termasuk tidak mau dibabtis menjadi Katolik. Mereka yang menolak Portugis ini kemudian mengungsi ke Amanuban (menjadi suku Boti) sebagian mengungsi ke Kupang (suku Taebenu). TIdak heran kalau lama-lama namanya menjadi Oecusi saja – minus Ambenu :)….

 

Oekusi-Ambenu: 500 Tahun Masuknya Portugis di Timor (1/3)

wel
Bemvindo a Lifau!

Akhirnya saya ke Oekusi. Bersama dengan tiga teman lainnya kami berangkat dari Kupang menuju Kefamenanu untuk selanjutnya masuk ke Timor Leste melalui Wini dan Sakato. Kepergian kami adalah untuk memenuhi undangan Konsulat RDTL Kupang dalam perayaan 500 tahun masuknya Portugis ke Timor dan Upacara Peringatan ke-40 Proklamasi Kemerdekaan RDTL. Kami berangkat jam sepuluh pagi tanggal 26 November.

Karena perjalanan yang menyinggahi berbagai kerabat teman imam, termasuk mengunjungi rumah orangtuanya RD Jerbo, kami masuk perbatasan pada jam delapan malam. Praktis tak banyak yang bisa dinikmati (via kamera) di kawasan perbatasan ini. Sekilas lampu-lampu di Wini lebih gemerlap ketimbang di seberang, Sakato. Kantor imigrasi Indonesia di sini masih lebih rapi dan tenang ketimbang yang ada di Motaain. Petugasnya juga lebih ramah, mungkin karena sudah mendapat berita bahwa akan ada rombongan dari Keuskupan Agung Kupang yang hendak melintas batas. Di pos tentara kami melapor lalu ke kantor imigrasi, sedangkan sopir malah harus balik kembali sekitar 1 km untuk mengurus STNK mobil di di kantor bea cukai.

Di kantor imigrasi RDTL ternyata kami mengalami sedikit kesulitan. Sesuai pemberitahuan dari Konsulat RDTL, kunjungan kami ini adalah kunjungan bebas visa, namun petugas bersikeras meminta biaya sebesar 30 USD. Ibu konsulada tak sedang bersama kami saat itu. Ia baru akan masuk ke Oekusi keesokan harinya karena tak ada tempat penginapan di Oekusi. Setelah berdebat dengan hampir emosional, kami diijinkan masuk tanpa biaya.

Dari Sakato kami menyusuri jalan raya yang baru digusur. Sangat lebar, belum diaspal dan kami seperti menyusuri kabut debu. Tidak lama kemudian, sekitar setengah jam, kami tiba di Pante Makasar. Banyak mobil yang juga baru masuk dari Dili. Jalanan menjadi ramai. Kami langsung mengambil arah ke Pastoran Gereja Paroki Nossa Senhora de Rosario di sebuah tempat yang disebut Numbei. Sudah jam Sembilan waktu Timor Leste.

Pastor Carlos menyambut kami di pelataran, mengajak kami makan malam setelah beristirahat dan basa-basi sejenak.

Uskup Basilio dan Uskup Norberto juga sudah ada. Sore tadi ada misa penerimaan Krisma untuk 1200 orang, di pelataran Gereja. Dari jauh terdengar music berdentam keras, acara pameran di lapangan kota.

Sesudah makan malam kami dihantar ke sebuah rumah yang hampir rampung di sebelah gedung Gereja. Rumah komunitas suster-suster HCarm. Kami akan menginap di sini. Gedung ini sudah selesai. Tinggal polesan dekorasi terakhir. Yang ada dalam rumah ini hanya tempat tidur dan sebuah kursi di masing-masing kamar, persiapan darurat di sebuah rumah kosong untuk penginapan tamu. Selain kami dari Kupang, seorang pastor dari Dili juga menginap di rumah tersebut.

Pos Tentara Wini
Pos Tentara Wini
Gereja Numbei
Gereja Numbei
NArsis di depan Gereja
NArsis di depan Gereja
Mohon berkat Santo!
Mohon berkat Santo!

27 November

Pagi hari ini adalah kesempatan mengunjungi persiapan tempat perayaan Ekaristi, Lifau. Jaraknya kira-kira lima kilometer ke sebelah barat Pante Makasar. Jalan raya, atau tepatnya, bakal jalan raya, menuju ke sana sangat lebar, dengan rambu petunjuk arah di setiap persimpangan, ada beberapa bundaran jalan. Semua ini mengingatkan bahwa sepuluh tahun kemudian, Pante Makasar akan menjadi kota yang indah dari segi tata lalulintasnya.

Lifau Park, tempat bersejarah itu terletak di tepi pantai, dengan pohon-pohon asam yang besar, sebesar pelukan dari tiga atau empat orang dewasa. Di bawah pohon-pohon asam yang rindang itu ada sebuah tugu yang sering saya lihat gambarnya di internet, yang menjadi marka monumen Lifau – di sinilah bangsa portugis mendarat – Namun yang menarik perhatian banyak orang pagi itu adalah monument baru – sebuah patung kapal layar dan beberapa patung disekitarnya. Kapalnya terbungkus kain putih dan patung-patung – ada enam buah patung – semuanya dibungkus dengan kain jingga. Rupanya selubung kain tersebut baru akan dibuka pada peresmian sore nanti.

Setelah puas berfoto-foto di sekitar tugu dan monument yang baru, juga di bibir pantai – kami segera pulang. Sore baru akan kembali ke sini lagi untuk merayakan Ekaristi.

Monumen Baru Lifau
Monumen Baru Lifau
Akhirnya saya juga "mendarat" di sini
Akhirnya saya juga “mendarat” di sini
Bersama orang lokal
Bersama orang lokal
Masih diselubung kain
Masih diselubung kain
Arca Maria peninggalan portugis
Arca Maria peninggalan portugis
Persiapan altar untuk Misa
Persiapan altar untuk Misa
Nasrsis di bawah pohon bersejarah
Nasrsis di bawah pohon bersejarah

(Bakal) Colegio Santo Antonio

Kembali ke pastoran, ternyata ada rombongan istimewa yang baru tiba. Sekretaris Nuncio Apostolik, Uskup Agung Bukarest dan Kanselir Keuskupan Johor. Kedatangan mereka bisa dijelaskan seperti ini. Selain untuk menghadiri perayaan Ekaristi mereka juga akan memberkati gedung sekolah (colegio) santo Antonius Padua Oecuse, tepat di samping penginapan kami. Bangunan ini sebenarnya belum selesai, masih banyak pekerjaan. Namun pemberkatannya disatukan dengan kegiatan perayaan 500 tahun, biar menghemat waktu dan biaya. Tersebutlah, sekolah yang dibangun dari sumbangan Keuskupan Johor itu diberkati Sekretaris Nuncio, prasastinya ditandatangani pula oleh Kanselir Keuskupan Johor, sementara si Uskup Bukarest itu, kebetulan datang untuk mengunjungi “anaknya” yang jadi Sekretaris Nuncio itu.

Tentang bangunan yang baru seperempat jadi itu, Sekretaris Nuncio bertanya sana-sini, misalnya di mana bangunan selanjutnya mau didirikan, di mana ruang computer dan laboratorium, di mana tempat olahraga, apa tersedia air yang cukup, toiletnya minimal duapuluh dst. Beliau masih mengingatkan agar jangan menebang pohon besar yang tumbuh di situ, kalau hendak melanjutkan pembangunan. Pastor paroki dan kontraktor telah merencanakan masterplannya. Tinggal menunggu kucuran dana tahap berikutnya, kata kontraktor, yang sempat bercerita bahwa kakeknya adalah migran langsung dari Tiongkok ke Oekusi. Saya sempat dikalungi Bet ana sebagai wakil dari Indonesia, Keuskupan Agung Kupang yang ikut dalam acara pemberkatan tersebut.

Tandatangan di prasasti
Tandatangan di prasasti
Colegio Santo Antonio
Colegio Santo Antonio

Missa Agradecimento 500 Annos Lifau … (Bersambung)