Orang Modern Tak Butuh Hujan

Cuaca buruk, tidak bersahabat, demikianlah beberapa orang menyebut hari yang penuh dengan hujan dan angin, ketika matahari tak pernah terbit dan suasana sangat gelap. Bisa jadi disebut buruk karena tidak mengijinkan seseorang untuk dengan mudah melakukan aktivitas, terutama aktivitas di luar ruangan.

Belakangan ini cuaca di Kota Kupang semakin tidak bersahabat. Sejak munculnya gempa di kedalaman Laut Flores sana, sejak itu pula hujan dan angin sering datang menyambangi Kota Kupang. Beberapa petani yang mulai gelisah karena tanaman jagungnya jarang mendapat curah hujan selama bulan Februari akhirnya bersorak gembira. Namun bagi orang kota dengan kesibukan lalu lalang yang tinggi, cuaca seperti ini sungguh sangat tidak diharapkan.

Pantauan di socmed, terutama facebook, banyak status yang mengutuk hari mendung berhujan. Sangat sedikit bahkan hampir tak ada yang bersyukur karena hujan turun sepanjang hari. Apakah hujan mulai sekarang hanya milik orang-orang kampung? Apakah kehidupan modern tak lagi memerlukan hujan, ketika pasokan air sudah bisa diperoleh lewat rekayasa tekhnologi?

Saat kutuliskan posting ini, hujan masih menggyur deras di luar, reranting angsono sedang berjatuhan, dan saya hampir mengamini: orang modern tidak butuh hujan.

Bermain “Fiti Buli”

Salah satu permainan anak-anak yang tetap digemari anak-anak sekolah dasar hingga sekarang adalah permainan karet gelang. Ada banyak macam permainan dengan menggunakan karet gelang ini, dari main tiup kacamata yang melipatgandakan karet gelang satu persatu hingga permainan fiti buli yang menggandakan karetmu dalam kelipatan tertentu dari lima hingga puluhan.

Permainan fiti buli adalah satu bentuk permainan karet gelang yang sedang digemari siswa-siswa SD di kampung saya. Permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang atau lebih. Dua buah tiang sejajar   dari ranting   kayu   setinggi 20cm dengan jarak masing-masing sejengkal. Pada kedua tiang itu direntangkan sebuah karet gelang. Diatas rentangan karet yang kencang itu diletakkan masing-masing karet. Tugas berikutnya adalah berusaha menjatuhkan karet-karet diatas rentangan karet tersebut dari jarak 20 langkah kaki. Berapa karet yang jatuh ke tanah setelah di-fiti menjadi hak dari pemanah tersebut. Bila pada kesempatan pertama, karet-karet tak berhasil dijatuhkan maka tempat di mana terletak panah karet tadi menjadi patokan untuk memanah ulang. Pemilik fitik terjauh berhak untuk mendapatkan kesempatan pertama memanah. Jika meleset lagi, maka giliran orang berikutnya. Jika kena dan karetnya jatuh, panahnya kini menjadi sasaran tembak teman berikutnya. Karet-gelang yang dijatuhkan tadi akan menjadi miliknya kalau tidak kena panah dari teman berikut tetapi kalau kena, maka karet yang jatuh tadi berpindah tangan. Aturannya memang rumit, tapi anak=anak SD kelas empat ini terlihat sangat menikmati. Kadang mereka bertengkar siapa yang berhak mendahului untuk menembak. Kadang ada yang ketahuan bermain curang. Ada yang jengkel dan marah-marah karena tidak berhasil menjatuhkan karet. Ada juga yang melompat-lompat kesgirangan, ketika berhasil menjatuhkan segulungan karet.

Permainan ini memang jarang ditemukan di kota-kota di mana anak-anak akrab dengan permainan digital. Meskipun anak-anak kampung ini telah mengenal TV dan game komputer, permainan tradisional seperti kelereng, dan fiti buli ini masih sangat digemari dan menjadi kegiatan favorit saat istirahat sekolah atau “bersenang”.