Sepuluh Fakta tentang Suku Boti di Timor

Oke, jika digoogling akan muncul banyak tulisan tentang suku pelestari budaya Atoin Meto ini. Ada beberapa hal yang belum terjamah para penulis, paling tidak sejauh usaha pencarian saya. Ini beberapa fakta (dan opini) yang masih jarang terpublikasi, tapi juga butuh penelitian lebih lanjut. Saya dapatkan informasi ini dari seorang warga Desa Boti, beragama katolik (pemimpin umat di Kapel Boti dan punya hubungan darah dengan Raja Boti dari pihak ibu):

  1. Anggota Suku Boti terdiri dari 5 RT dalam wilayah Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Secara kategori keagamaan ada delapan mata jemaat GMIT di Boti, 1 kapel katolik dan kelompok agama suku di wilayah desa Boti.
  2. Suku Boti menghidupi budaya Atoin Meto khususnya Amanuban
  3. Berdasarkan tutur adat suku Boti berasal dari Ambenu, Oecusse. Merekalah suku yang pertamakali bertemu dengan orang Portugis tapi karena menolak untuk dibaptis maka raja bersama hamba-hambanya yang setia, mengungsi ke selatan, dan sampailah mereka di Boti.
  4. Pada tahun 1968 karena oleh ancaman PKI yang hendak membunuh semua orang yang tidak beragama, Raja Boti meminta Pastor Paroki Oinlasi untuk membaptis rakyatnya. Hanya tiga orang yang tetap tidak dibabtis (Raja dan dua pengawalnya).
  5. Sesudah ancaman PKI berlalu mereka yang sudah dibabtis secara bebas memilih kembali memeluk agama asli suku
  6. Penolakan mereka pertama adalah menolak agama orang kulit putih. Lalu imbas ke penolakan akan kehidupan modern.
  7. Piet A Tallo, saat menjabat sebagai Bupati giat mempromosikan suku-suku Boti. Raja Nune Benu bahkan pernah bersama Piet Tallo ke Jakarta bertemu Presiden Soeharto.
  8. Raja Namah Benu (Kepala Suku Boti sekarang) adalah putera kedua Nuneh Benu. Putera pertamanya Laka Benu memilih keluar, dan dibaptis sebagai Lukas Benu, menetap di Niki-niki.
  9. Anak-anak suku Boti biasanya dibagi, yang sekolah dan tidak sekolah. Generasi penerus suku Boti nantinya adalah mereka yang dilarang bersekolah :)
  10. Oleh keramaian arus pariwisata mau tak mau anggota Suku Boti ikut jadi modern, jumlahnya semakin berkurang, kalau tahun 80-an masih bisa terlihat lelaki berkonde di Pasar Oinlasi, sekarang tak ada lagi. Bisa jadi mereka takut diracuni dunia modern atau memang sudah tidak ada lagi (hanya yang tua-tua).
  11. Akhirnya, Boti malah lebih ramai dikunjungi karena akses ke sana lebih lancar dari beberapa wilayah lainnya di Timor Tengah Selatan. Waduhhh….
  12. Kepanjangan jadi curhat duabelas, ha….

Menerjang Hujan (dan Banjir) di Kota Kupang

Setelah ikut-ikutan latah mengutuk hujan yang turun seharian di Kota Kupang  hari ini, akhirnya aku sendiri harus menerjang hujan. Malam ini aku mesti ketemu teman-teman di kawasan Kotabaru. Sudah jam tujuh malam. Hujan pergi menyisakan aspal yang beruap dan licin. Udara masih terasa dingin hingga aku melapis dua jaket untuk menahan terpaan angin. Dengan sepeda motor yang juga kebasahan kena percik hujan di teras rumah tadi, aku mengendara menuju keramaian Kota Kupang.

Di dekat jembatan Liliba, gerimis kembali lagi. Banyak orang mulai meminggir untuk berteduh. Gerimis bertambah deras sehingga usai menyeberang jembatan, aku mesti mencari tempat berteduh. Aku basah sebagian. Sepeda motor kuparkir dan berlari kecil menuju satu di antara deretan kios kecil depan Tugu Bundaran PU – rupanya sebuah konter pulsa – dan bergabung bersama puluhan orang lainnya yang sudah lebih dahulu berteduh. Mereka juga tak ingin diganggu hujan.

Sambil menunggu hujan yang semakin menderas, iseng-iseng aku mengikuti percakapan dua orang pemuda di samping saya. Aksen orang Soe, meski mereka sedang berbicara Melayu Kupang dengan lancar. Cerita mereka adalah seputar sepedamotor Yupiter MX milik salah satu dari mereka yang dipermak a.k.a dimodifikasi sesuai selera: ganti ban, ganti setang dll. Aku tidak begitu paham soal modifikasi sepedamotor. Selain itu ada kisah menarik dengan setting di Kolbano dan sekitarnya, bagaimana si pemuda yang satu dengan rantai sepedamotor yang putus dan menunggu bis untuk dimuat, sementara hujan deras, dan banjir semakin meluap naik, di Oebelo, di jalan menuju ke arah Kolbano.

Sementara itu dua pemudi di sebelah kiri saya sibuk menadahkan tangan keluar mengecek apakah curah hujan cukup bersahabat untuk berkendara pulang. Mereka dari Sikumana dan sudah lapar. Mereka lantas saling mengajak untuk mengupdate status facebook mereka. Kukira statusnya tidak akan jauh berbeda dari yang ada di timeline FB saya tadi pagi: mengutuk hujan dsb. Mereka memperkirakan curah hujan dengan sangat hati-hati, sebab menurut mereka hujan hari ini tak akan reda total sementara perjalanan masih jauh dan di tas ada berkas-berkas administrasi perkuliahan: KHS, resi registrasi yang pantang basah.

Akhirnya hujan berhenti juga. Seorang bapa mulai menstater sepeda motornya. Mungkin karena kebasahan, motor sepedanya tidak mau hidup. Setelah berkali-kali menendang handel stater berulang kali, si bapak itu menyerah. Dari saku dikeluarkan ponsel dan mengontak seseorang. SOS. Aku mendekati sepedamotor, merogoh kain lap dan menghalau butiran air pada jok. Kain lapnya basah oleh hujan, dan usaha menghalau butiran air tadi sepertinya sia-sia.

Aku memacu kendaraan menuju Rumah Keuskupan, depan Taman Nostalgia. Di depan kantor Golkar iringan kendaraan melambat. Tepat pada pertigaan menuju gereja Assumpta, ada aliran air deras. Kali yang salah jalan rupanya. Beberapa sepeda motor memilih untuk berbalik pulang, atau mencari jalan lain menghindari banjir deras. Sebuah sepedamotor bebek mencoba menyeberang, mesinnya mati terendam air, untunglah kali-salah-jalan selebar lapangan futsal itu sudah dilewati.

Setelah melewati selokan-nekat-salah jalan itu, di depan gedung museum, bertebaran kerakal-kerakal, yang rupanya dibawa air dari tepi pagar museum Negeri Kupang. Pengendara masih harus diuji: kesabaran, ketabahan, kedinginan dan kebasahan. Aku tiba di penginapan dengan hampir basah kuyup. Banjir tadi cukup dalam dan deras. Seluruh mata kaki ku di atas pedal Honda MegaPro terendam dan aku sempat merasakan hentakan arus air.

Dari situ saya tahu kalau selama ini  drainase kota tidak diperhatikan dengan baik, oleh yang berwewenang. Mungkin karena curah hujan di Kupang yang sedikit, parit dan selokan-selokan di pinggir jalanraya, sama sekali tidak diurus dengan baik. Pertigaan gedung Golkar ini adalah satu titik di antara sekian titik yang berlimpah genangan air ketika hujan tiba dan otomatis melumpuhkan lalulintas kota.

Momen ini cukup menarik dan boleh dipromosikan sebagai salah satu aset pariwisata musim hujan, sayang sekali, saya sungguh menyesal karena kamera tertinggal di rumah. Karena takut kamera kebasahan, akhirnya momen menarik ini cuma bisa tergambar dengan kata-kata.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitu mau balik dari Penginapan Keuskupan, ternyata helm saya diambil orang. Tadi disimpan dekat beberapa helm lainnya, di tempat yang cukup aman, tapi kok helm saya yang diambil orang? Kemungkinan ada yang meminjam tanpa sepengetahuan tapi lupa mengembalikan, akhirnya stelah putar cari sana-sini, saya pulang dengan helm pinjaman, dan janji akan datang lagi untuk mengembalikan pengaman kepala tersebut kepada pemiliknya. Sementara dalam hati mulai hitung-hitung, apa uang saku cukup untuk sebuah helm baru, lagi?