Arsip Blog

“Fle Pisa” dan Model Cukur Rambut

Saya baru saja menggunting rambut saya. Seperti pria lain pada umumnya, bercukur adalah ritus rutin setiap bulan (untuk rambut kepala) atau setiap hari (untuk kumis jenggot dan brewok) kecuali kamu ingin tampil beda misalnya. Di sebuah salon kecil di bilangan Pasirpanjang, saya memasrahkan kepala saya *seperti anak domba yang memberikan diri untuk dicukur bulu-bulunya* Setengah jam kemudian, rambut saya menjadi klimis dan rapi, dan sejumlah rupiah ikut keluar dari dompet saya, balas jasa untuk si tukang cukur.

Sudah hampir lima tahun, urusan rambut saya diserahkan kepada tukang cukur. Dan sampai sekarang saya merasa tak ada yang perlu dikomplain. Semuanya baik-baik saja. 

Ada banyak gosip seputar tukang cukur yang membuat saya kadang-kadang merasa ngeri sendiri. Misalnya tentang tukang cukur yang sengaja menularkan penyakit kepada langganannya. Dengan alat cukur yang sengaja tidak disteril atau bahkan sudah dikotori dengan kuman dan virus tertentu…. Namun gosip seperti ini bisa saya tampik, karena ada satu kekuatan dalam diri saya: kepercayaan akan kebaikan orang lain. Saya yakin mereka semua sama seperti saya, selalu ingin berbuat kebaikan kepada orang lain dulu barulah memperhitungkan balas jasa.

Tentang perihal cukur-mencukur rambut ini, saya ingat kebiasaan waktu masih kecil dahulu. Di rumah sebagai anak tengah, saya biasa dicukur oleh ayah atau kakak lelaki saya. Saat saat mencukur rambut adalah saat yang paling tidak nyaman. Kau harus duduk diam, sementara teman-temanmu lalulalang berteriak mengoper bola ke sana kemari. Seperti sebuah siksaan: duduk dan menonton teman-teman asyik berkejar-kejaran. Syukurlah setelah *api penyucian* itu, kadang saya diberi permen oleh kakak, dan penderitaan bisa segera berakhir terutama karena bisa bergabung dengan kelompok teman yang berkejar-kejaran tadi.

Di masa kecil saya ada istilah untuk cukuran yang tidak rapi, asal pendek. Cukuran “fle pisa” namanya. Muasalnya dari nama alat cukur yang digunakan yakni beling. Pecahan botol, gelas atau kaca, digunakan untuk mencukur rambut di kepala: itu karena mencari gunting rambut dulu di sebuah kampung udik terpencil bukanlah sebuah hal yang mudah. Akibatnya kepala yang dicukur bisa berdarah-darah, dan rambut kepala mirip seperti jajaran pematang sawah: bertingkat-tingkat. Saya sendiri tidak pernah menyaksikan sendiri bagaimana seseorang dicukur memakai fle pisa. Tapi kemudian, istilah itu cukup sering digunakan untuk menilai hasil cukuran yang tidak profesional, asal pendek dan “berpematangsawah”.

Konon, menurut cerita ayah, benar, dulu sebelum gunting yang sekarang kita kenal, banyak orang di kampung bercukur dengan beling, alias fle pisa. Lelaki Timor mulanya tidak mengenal cukur-mencukur rambut. Rambut yang terurai panjang dirapikan dengan cara dikonde. Beda dengan konde wanita adalah, konde pria biasanya berada di atas kepala, sedangkan wanita biasanya di belakang kepala. Lelaki-lelaki Timor yang berkonde masih bisa kita temui di Boti, sebuah kampung yang masih enggan bergaul dengan dunia modern. 

Sekarang ini, meng-konde rambut akan sertamerta dinamakan primitif, untuk para wanita sekalipun. Jaman berubah dan kita pun berubah di dalamnya. Tapi tentu saja, orang-orang di Boti masih ragu-ragu: ikut berubah atau tidak ya?

Salam cukur rambut!

Selamat Datang di Rai Hawu!

Bagaimana geliat pembangunan daerah otonomi yang baru mekar dari kabupaten Kupang itu? Inilah yang menjadi pertanyaan saya ketika saya ditugaskan untuk pergi ke Sabu Raijua, sebuah kabupaten di wilayah Barat Daya pulau Timor. Tugas kali ini adalah tugas pastoral. Saya dan teman saya RD Rudy akan mengadakan sosialisasi Kegiatan APP dan TIOM di paroki St Paulus Seba.

Tanggal 28 Februari, tepat jam delapan lebih tigapuluh menit, saya dan RD Rudy sudah check in ke bandara. Penerbangan hari ini dengan Susi Air, pesawat cessna yang hanya memuat selusin orang, ditambah pilot dan co-pilot.

Menurut jadwal kami akan berangkat jam 9.30. Akan tetapi setelah lama menunggu di ruangtuanggu belum juga ada tanda-tanda hendak berangkat. Ruang tunggu bandara sedang direnovasi. Ada sedikit rasa ketaknyamanan di sana. Sebuah baliho besar menyatakan permintaan maaf dari pihak pengurus bandara.
Baru satu jam kemudian, kami boarding ke pesawat kecil itu. Kami calon penumpang, berkumpul dekat tangga masuk pesawat. Seorang lelaki muda memperagakan cara memakai baju penyelamatan. Kemudian kami dipersilakan naik ke pesawat. Memilih tempat duduk masing-masing. Saya dan dua orang penumpang lainnya ada di barisan paling belakang. RD Rudy memilih duduk di belakang pilot. Tak ada kabin khusus untuk pilot, semuanya menjadi satu ruang dalam pesawat kecil ini.

Menuju pesawat Cessna

Menuju pesawat Cessna

Narsis sebelum boarding

Narsis sebelum boarding

tak kalah narsisnya saya

tak kalah narsisnya saya

usai briefing di bawah teduhnya sayap cessna

pilot dan copilotnya bule, laki dan perempuan

Pesawat mulai lepas landas, meninggi di atas pulau Semau. Tanjung Sulamu di sebelah kanan dan Ujung Pulau Rote di sebelah kiri. Kami lantas menghilang ke dalam gemawan. Pesawat meluncur tenang. Lelaki di sebelah kanan dan kiriku mulai tertidur, atau sengaja tidur. Aku terus menatap rupa-rupa gemawan yang bergonta-ganti, hingga akhirnya muncul padang kehijauan: Pulau Sabu!

Dengan sedikit usaha, pohon-pohon bisa kau hitung

Dengan sedikit usaha, pohon-pohon bisa kau hitung

Dari atas segera “ketahuan”, kalau pulau ini memang tandus. Tidak jauh berbeda dengan sebagian besar kondisi topografi Timor. Sabana dan lontar menghampar di perbukitan. Dengan sekali pandang seluruh pulau sabu habis dilahap mata. Saya merasa seperti berada dalam Game Age of Empire ketika para templar menemukan kepulauan baru.

Pesawat merendah, kemudian menukik ke arah bandara kecil Tardamu. Bangunan menara dan ruang tunggu sedang dikembangkan. Ada sebuah kemah terpal berwarna biru dengan sederet kursi di pinggir lapangan. Agaknya itu ruang tunggu emergency… menunggu bangunan utama diselesaikan.

Bertemu Bupati Sabu Raijua

Saya dan teman saya tadi baru pertama datang ke Sabu. Pesan singkat yang ditujukan kepada penjemput belum juga dibalas. Kami mengaso sebentar di bawah pohon reo. Seseorang mendekati kami.
“Pak dong dari mana?”
“Dari Kupang”
“Bapak Bupati ada suruh jemput” (Kelihatan dia begitu yakin bahwa orang yang dimaksud adalah kami).
Hah, dijemput bapa Bupati Sabu Raijua? Ternyata kedatangan kami sudah diinformasikan kepada pejabat daerah setempat. Lebih tepatnya, kepada Pak Marten Dira Tome. Beliau adalah teman baik tokoh umat di Paroki Assumpta Kupang. Bapak Alo Liliweri telah meminta bapak Marten Dira Tome untuk “memfasilitasi” kedatangan kami berdua ke Sabu. Sebenarnya ini juga bersesuaian dengan komitmen beliau sebagai Bupati Sabu Raijua: selalu memperlakukan tamu daerah Sabu dengan sangat hormat, demi menarik banyak orang dan memperkenalkan Sabu Raijua kepada orang “luar”. Selain itu, hemat saya, Kota Seba belum memiliki fasilitas transportasi umum dan penginapan yang terbatas, membuat aparat pemerintah turut terlibat memperhatikan tamu yang datang.

Singkat kata, kami segera menumpang sebuah sedan plat merah, dikendarai oleh  , “panggil saya Bapak Nduufi”. Beliau adalah Kasubag Perlengkapan yang “diperintah” Bupati untuk “mengawal” kedatangan kami.
Mobil meluncur ke arah perkantoran Bupati, di daerah Menia, sebelah Timur Seba. Tugas pertama kami di pulau lontar ini adalah bertemu Bapak Bupati. Beliau kami dapati sedang bersiap-siap hendak ke Sabu Timur. Dengan ramah, beliau menyambut kami. Kebetulan juga, beliau sudah mengenal teman saya RD Rudy, juga RD Ande Kabelen, yang sempat menitipkan salam hormat kepada pak Bupati melalui saya. Setelah berbasa-basi sejenak, Pak Bupati segera pergi.

Bertemu Pater Franz Lackner

Dari Kantor Bupati kami menuju ke Pastoran Seba. Melalui sebuah gang di kawasan pasar Seba kami bertemu dengan bangunan Gereja dan sebuah rumah sederhana dengan konstruksi yang sedikit berbeda dengan bangunan sekitar. Sebuah rumah beratap seng, berdinding setengah tembokk, setengah bambu. Inilah rumah asrama puteri, sekaligus tempat tinggal Pater Franz Lackner, SVD. Nah, siapa Pater Franz? Saya berani menjamin setiap orang Rote atau Sabu pasti pernah bertemu dan mengenal lelaki tua asal Austria ini. Beliau adalah misionaris SVD yang sudah lama membaktikan hidupnya untuk kepentingan orang Sabu dan Rote. Ada banyak cerita tentang pastor ini. Tapi itu saya ceritakan lain kali saja.

Lelaki bule yang sangat lancar berbahasa Sabu dan Rote itu menyongsong kami di depan asrama. Katanya, tadi beliau melihat kami di bandara. Dia bermaksud menjemput tadi, tapi karena kami tak melihat dia, – karena saya dan RD Rudy belum bertemu muka dengan dia – kami lantas menumpang mobil jemputan, dan Pater pulang dengan “hampa”. Ternyata, pastor ini punya selera humor yang sangat tinggi. Banyak sekali anekdot dan gurauan menyelingi kisah-kisahnya di siang hari itu, di bawah rindang pohon ketapang di depan rumah. Suasana gerah kota Seba sungguh tak terasa. Saya, RD Rudy dan Pak NduUfi hanya bisa ketawa-ketiwi. Sesekali ia berbahasa Rote dengan Pak NduUfi yang kelahiran Rote.

ngobrol bersama pater franz

ngobrol bersama pater franz

di bawah rindang pohon ketapang

di bawah rindang pohon ketapang

Rumah Makan Pondok Lontar
Pak Nduufi mengantar kami ke penginapan, sebuah bangunan mirip kos-kosan di Kupang, tepat di belakang Bank NTT Seba. Belum selesai rupanya tugas Bapak Nduufi. Baru saja kami meletakkan barang bawaan dalam kamar penginapan, beliau mengundang kami untuk makan siang. Wah, rasanya terimakasih saja tidak cukup. Kami di bawa kembali menuju ke arah Menia, ke sebuah Rumah Makan, Pondok Lontar.

Rumah Makan Pondok Lontar sedang sepi. pengunjung yang datang baru kami bertiga. Rumah yang dibangun dari bahan pohon lontar itu menyediakan menu yang sangat NTT, masakan dari daging babi. Kami memesan sup babi dan es teh. Tanpa menunggu terlalu lama hidangan pun tersedia.

sup brenebon, dengan wadah unik dari batok kelapa

sup brenebon, dengan wadah unik dari batok kelapa

Bon appetite!

Bon appetite!

kenyang....

kenyang….

interior yang asri

interior yang asri

 

Di rumah makan ini sangat terasa suasana religi. Lagu-lagu pop rohani kristen disetel lembut mengiringi makan siang. Pada sebuah tiang ada ukiran doa Bapa kami dalam Bahasa Inggris. (Saya pikir pasti lebih bagus kalau bisa dalam Bahasa Sabu).

Naskah Our Father di Pondok Lontar

Naskah Our Father di Pondok Lontar

Setelah menghabiskan menu kami kembali ke penginapan. Beristirahat.

di beranda penginapan

di beranda penginapan

Tugas yang sesungguhnya, inti kedatangan kami ke Rai Hawu ini, akan terjadi sebentar sore, di Gereja Santu Paulus Seba. Saatnya beristirahat. Kamar yang berAC membuat mata terasa berat. Saya berbaring menunggu senja turun ke Rai Hawu…

Live to Write - Write to Live

Professional writers talk about the craft and business of writing

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

JNYnita

Justisia Nafsi Yunita

What an Amazing World!

seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Cerita Aku Untuk Dunia

Cukup dengan membagi hal yang kecil kepada orang lain kamu akan mendapatkan kebahagian yang luar biasa :)

JalanBlog

www.jalanblog.wordpress.com

Nadhirah!

Jika tak menulis, kau kan benar-benar tiada setelah meninggalkan dunia..

Anima Education

For Information on current and upcoming Anima Education courses

Tuhan dan kita

Perjalanan kepada puisi

Anisa's special lecturer candidates

usaha dan berdoa adalah buah dari keberhasilan

Twin Lover's World (Nora Panai)

Tidak Akan Ada Lagi Namamu Dalam Cerita

wisata dieng

Paradise of Indonesia

Segores Tinta Coemi

Just everything about something unique, valuable, and wonderful

..just a journal of an ancient knowledge

xenology - astrology - meta science - ocultism - local wisdom

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.568 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: