Arsip Blog

Bermain “Fiti Buli”

Salah satu permainan anak-anak yang tetap digemari anak-anak sekolah dasar hingga sekarang adalah permainan karet gelang. Ada banyak macam permainan dengan menggunakan karet gelang ini, dari main tiup kacamata yang melipatgandakan karet gelang satu persatu hingga permainan fiti buli yang menggandakan karetmu dalam kelipatan tertentu dari lima hingga puluhan.

Permainan fiti buli adalah satu bentuk permainan karet gelang yang sedang digemari siswa-siswa SD di kampung saya. Permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang atau lebih. Dua buah tiang sejajar   dari ranting   kayu   setinggi 20cm dengan jarak masing-masing sejengkal. Pada kedua tiang itu direntangkan sebuah karet gelang. Diatas rentangan karet yang kencang itu diletakkan masing-masing karet. Tugas berikutnya adalah berusaha menjatuhkan karet-karet diatas rentangan karet tersebut dari jarak 20 langkah kaki. Berapa karet yang jatuh ke tanah setelah di-fiti menjadi hak dari pemanah tersebut. Bila pada kesempatan pertama, karet-karet tak berhasil dijatuhkan maka tempat di mana terletak panah karet tadi menjadi patokan untuk memanah ulang. Pemilik fitik terjauh berhak untuk mendapatkan kesempatan pertama memanah. Jika meleset lagi, maka giliran orang berikutnya. Jika kena dan karetnya jatuh, panahnya kini menjadi sasaran tembak teman berikutnya. Karet-gelang yang dijatuhkan tadi akan menjadi miliknya kalau tidak kena panah dari teman berikut tetapi kalau kena, maka karet yang jatuh tadi berpindah tangan. Aturannya memang rumit, tapi anak=anak SD kelas empat ini terlihat sangat menikmati. Kadang mereka bertengkar siapa yang berhak mendahului untuk menembak. Kadang ada yang ketahuan bermain curang. Ada yang jengkel dan marah-marah karena tidak berhasil menjatuhkan karet. Ada juga yang melompat-lompat kesgirangan, ketika berhasil menjatuhkan segulungan karet.

Permainan ini memang jarang ditemukan di kota-kota di mana anak-anak akrab dengan permainan digital. Meskipun anak-anak kampung ini telah mengenal TV dan game komputer, permainan tradisional seperti kelereng, dan fiti buli ini masih sangat digemari dan menjadi kegiatan favorit saat istirahat sekolah atau “bersenang”.

Kisah Si Tukang Jahit Sepatu

Namanya entah. Saya tidak bermaksud mengetahuinya. Yang saya tanyakan adalah asal kedatangannya, bagaimana sampai ia tersesat di belantara Kupang yang gerah ini. Lelaki berusia tigapuluhan itu berasal dari pantai selatan TTS, tepatnya di Boking, tempat yang belum pernah saya jejaki. Namun setidaknya karena kesamaan budaya, terutama dialek Bahasa Dawan, maka kami bisa saling akrab. Saya sengaja membawakan dua buah sepatu untuk dijahitkan, dengan maksud mengobrol dengan dia lebih lama. Tangannya yang kasar terampil mengayunkan rajutan pada sol sepatu, sambil sesekali menjawab pertanyaan saya. Di ujung ibu jarinya ada bekas luka, katanya “mata ikan”. “Ini orang buat, Romo! Tetangga sebelah rupanya iri akan keberhasilan saya sebagai seorang tukang jahit sepatu keliling, dia bermaksud melumpuhkan tangan kanan saya agar “bisnis” saya ini berhenti”.

Lelaki itu sudah keluar dari desanya nun di Boking dan mengadu nasib sebagai penjahit sepatu keliling di Kota Kupang. Saban minggu ia datang ke asrama Seminari menjahitkan sandal dan sepatu yang rusak. Dan pulang dengan kotaknya separuh penuh berisi uang balas jasa jahit sepatu. Hidup sebagai orang Timor itu susah ya? Katanya. Ada apa sedikit mesti kumpul keluarga. Dan kumpul keluarga itu mahal. Bianyanya bisa sampai duaratus limpuluh ribu sekali kumpul keluarga. Nah, setiap ada momen kematian, perkawinan, urussan adat lainnya selalu didahului dengan kumpul keluarga. Setahun rata-rata bisa sampai 5-6 kali kumpul keluarga. Silakan dikalikan dengan minimal 250.000. Untuk itu sebagai seorang wiraswasta saya harus bekerja ekstra keras. Sebagai seorang penjahit keliling, saya mengutamakan kenyamanan para pengguna jasa sehingga mereka tergoda untuk menjadi pelanggan setia. Dengan demikian, saya tidak perlu kerja keras untuk mencari pengguna jasa saban bulan. Selalu ada tempat yang pasti dimana saya bisa mendapatkan jahitan orderan sepatu.

Lelaki beranak dua – semuanya puteri itu – menetap di bilangan Lasiana pada sebuah rumah kecil dari sebidang tanah yang dihibahkan kepadanya karena dia ternyata sanggup menebus sebidang tanah yang tergadai di BRI. Atas jasa pemilik tanah tergadai yang tahu bersyukur itu, kini ia bisa membangun rumah di atas lahan miliknya sendiri dan dengan tentang mengatur keuangan keluarga. Ya, saya tidak tahu bagaimana nasib saya sekarang kalau dulu saya tidak berani keluar dari kampung halaman. Mungkin saya sudah ikut dalam gerombolan teku itu …. Lelaki itu menutup pembicaraan singkat, lalu berjanji akan kembali besok mengatar sepatu saya yang akan diganti solnya.

Terimakasih, si tukang jahit sepatu. Hari ini sepotong kisah tentang kehidupan terurai di depan mata!

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

What an Amazing World!

seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Cerita Aku Untuk Dunia

Cukup dengan membagi hal yang kecil kepada orang lain kamu akan mendapatkan kebahagian yang luar biasa :)

JalanBlog

www.jalanblog.wordpress.com

Nadhirah!

Jika tak menulis, kau kan benar-benar tiada setelah meninggalkan dunia..

Anima Education

For Information on current and upcoming Anima Education courses

Scribo Ergo Sum

Perjalanan kepada puisi

Anisa Ma'watunnisa

usaha dan berdoa adalah buah dari keberhasilan

Twin Lover's World (Nora Panai)

Tidak Akan Ada Lagi Namamu Dalam Cerita

wisata dieng

Paradise of Indonesia

Segores Tinta Coemi

Just everything about something unique, valuable, and wonderful

..just a journal of an ancient knowledge

xenology - astrology - meta science - ocultism - local wisdom

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.609 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: