Arsip Blog

TIGA KEBIASAAN LEBARAN DI OEEKAM

Timorese Moslem family

Muslim di Oeekam (bisa baca di sini) punya kebiasaan saat Lebaran.

  1. Tak ada Ketupat.

Ketupat di masyarakat Indonesia identik dengan hari Raya Lebaran, meskipun di luar hari Raya Lebaran tetap ada tetapi tidak seramai pada waktu hari Raya Lebaran, makanan ketupat biasa dilengkapi dengan sayur santan dan semur. Tapi di Oeekam ketupat lumrah dikenal sebagai makanan untuk bekal perjalanan jauh. Makanya waktu lebaran tak da ketupat benaran. Yang ada cuma gambar atau hiasan ketupat. Yang ada lebih banyak penganan kecil, dan hidangan dari ayam: dipanggang, diopor, digoreng, dls.

2. Tak ada Mudik

Sama sekali tak ada kegiatan mudik (lagian mau ke mana?)  Yang ada namanya kumpul keluarga. Keluarga-keluarga yang terikat dalam satu rumpun besar, berkumpul dan merayakan lebaran bersama-sama. Pada hari itu keluarga-keluarga saling mengunjungi. Bukan saja sesama muslim. Tetangga mereka yang non-muslim pun ikut ambil bagian: berkunjung dan menyalami mereka yang merayakan lebaran.

3. Tak ada rekreasi keluarga.

Maksudnya tak ada acara khusus mengunjungi tempat rekreasi. Rekreasi dilakukan bersama anggota keluarga di rumah saja, menanti kedatangan tamu-tamu yang hendak bersilaturahmi. Keramaian terjadi di pusat kota kecamatan pertama pada saat malam takbiran keliling kota. Kedua pada saat sholat ied bersama di lapangan kecamatan. Lalu hala bihalal. Dan sesudah itu saling mengunjungi antar tetangga.

Suasana desa yang tenang menjadi ramai ketika ada lebaran. Selamat idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin!

SEJARAH ISLAM DI KOTA SOE – TTS

 

Masjid di Oeekam, baru selesai direhab (gambar diambil akhir Juli 2011)

Masuk dan berkembangnya agama Islam di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) bermula hanya dari 20 kepala keluarga (KK). Dari 20 KK yang berstatus PNS inilah menjadi cikal bakal perkembangan agama Islam di TTS. Saat itu, belum ada masjid satupun sebagai tempat ibadah bagi umat Islam.

Agama Islam masuk dan berkembang di Kabupaten TTS mulai tahun 1951 silam. Karena belum ada tempat ibadah maka Haji Usman L. Paoh, salah satu pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten TTS berkoordinasi dengan Bupati TTS, Kusa Nope meminta agar dibangun sebuah masjid bagi umat Islam sebagai tempat beribadah.

Koordinasi ini membuahkan hasil setelah mendapat restu dari kefetoran Noemeto, saat itu ayah dari Kusa Nope. Disetujuilah pembebasan tanah di Jalan Diponegoro (sekarang) tepatnya dibelakang Toko Mubatar SoE.

Menurut Haji Usman Paoh, setelah pembebasan tanah oleh pemerintah daerah saat itu memberikan bantuan berupa sedikit dana untuk membangun mesjid Nursyada yang terletak di jalan Diponegoro.

Masjid tersebut merupakan masjid pertama yang dibangun di Kabupaten TTS pada tahun 1951 silam. Setelah itu, 14 tahun ke depan umat Islam mulai berkembang pesat ditandai masuknya orang Bugis, Jawa dan Padang ke Kabupaten TTS.

Haji Usman Paoh yang juga mantan Ketua Majelis Ulama selama 27 tahun di
Kabupten TTS mengatakan tahun 1965 kurang lebih 1.000 orang dari pedesaan paling banyak dari Oe’ekam sekarang Kecamatan Amanuban Timur, berkumpul di Niki-Niki (saat ini Kecamatan Amanuban Tengah) dan mereka menyatakan ingin masuk agama Islam. Kurang lebih 1.000 orang yang ingin masuk agama Islam tersiar sampai ke Kupang.

Pemimpin agama Islam di Kupang mengirim kiyai ke Niki-Niki untuk menyadarkan sejumlah orang yang ingin masuk agama Islam. Dari mereka yang ingin masuk agama islam sekitr 17 orang dikirim ke pusat untuk belajar menjadi guru agama Islam.

Kemudian kembali ke Kabupaten TTS dan mulai mengembangkan ajaran Islam dengan membuka pondok pesantren dan tempat pengajian Alquran (TPA), Madrasah. Masyarakat paling banyak masuk agama Islam berada di Oe’ekam.

Makin banyaknya orang masuk agama Islam kata Usman Paoh, membuat pemimpin agama Islam di Kabupaten TTS melaporkan ke pusat mengenai kurangnya tempat ibadah bagi umat Islam. Alhasil, pemerintah pusat mengirimkn bantuan dana untuk membangun sejumlah masjid di
Kabupaten TTS.

Termasuk masjid raya dekat Kantor PT. Telkom SoE yang dibangun tahun 1981 silam. Hingga sekarang jumlah masjid di Kabupaten TTS termasuk di pedalaman hingga kini sebanyak 32 buah begitupun umat Islam yang ada sekarang di Kabupaten TTS terus berkembang hingga sekarang.

Dalam kehidupan sehari-hari, Usman Paoh mengaku bahwa umat Islam tetap berbaur dengan masyarakat lainnya. Tidak ada tempat tinggal atau perkampungan khusus bagi umat Islam. Hal inilah yang membuat kehidupan antar umat Islam dengan umat lain di TTS tetap harmonis hingga sekarang.

Btw, selamat menunaikan ibadah puasa!!

erniraster

the way to share my soul

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

JNYNITA

your Friendly Dentist

What an Amazing World!

seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Cerita Aku Untuk Dunia

Cukup dengan membagi hal yang kecil kepada orang lain kamu akan mendapatkan kebahagian yang luar biasa :)

JalanBlog

www.jalanblog.wordpress.com

Nadhirah!

Jika tak menulis, kau kan benar-benar tiada setelah meninggalkan dunia..

Anima Education

For Information on current and upcoming Anima Education courses

Scribo Ergo Sum

Perjalanan kepada puisi

Anisa Ma'watunnisa

usaha dan berdoa adalah buah dari keberhasilan

Twin Lover's World (Nora Panai)

Tidak Akan Ada Lagi Namamu Dalam Cerita

DIENG PLATEAU

PARADISE OF CENTRAL JAVA

Segores Tinta Coemi

Just everything about something unique, valuable, and wonderful

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.610 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: