Arsip Blog

Cantiknya Wisata Pantai Pulau Rote

Hello World,

Kali ini saya mau berbagi cerita lain lagi tentang perjalanan ke Pulau Rote, awal Februari lalu. Daerah paling selatan di Indonesia ini cukup dikenal oleh berbagai wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Pantainya di wilayah barat daya, sangat cocok untuk surfing.

DSC_0294

Menuju pulau Rote

Keberangkatan ke Rote menggunakan pesawat Wings Air. Lama penerbangan hanya limabelas menit. Maskapai Lion Air/Wings baru memulai penerbangan ke Rote awal tahun ini, berkat kerjasama dengan pemda setempat. Maka terdapat tiga pilihan moda transportasi, tiap hari, ke Rote. Pertama, fery biasa, yang merapat ke pelabuhan pantai baru, lama perjalanan empat jam. Kedua, fery cepat, berlabuh ke Dermaga Ba’a. Lama perjalanan dua jam. Dan ketiga, yang tercepat, pesawat terbang, mendarat di Bandara DC Saudale, Lekunik, dekat Ba’a.

Sesudah merayakan ekaristi hari Minggu di kapel santu Isidorus Busalangga, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Rencananya kami akan mandi-mandi di pantai Batu Pintu – Oeseli. Namun sebelumnya kami akan melihat-lihat kapel St Mikhael Oeseli yang baru dibangun.

DSC_0399

Teluk di belakang kapel Oeseli

Kampung Oeseli terletak di pinggir sebuah teluk jernih. Rumah-rumah berbaris dibawah naungan nyiur menghijau. Suasana sangat sepi. Penduduk di sekitar teluk ini umumnya para nelayan. Kapel Oeseli sendiri terdiri hanya dari enam kepala keluarga. Selebihnya beragama kristen lain.

Dari Oeseli kami menyusur pantai menuju ke barat, ke arah batu pintu. Mungkin dinamakan batu pintu karena ada barisan karang di tepi pantai yang membentuk gapura menuju ke laut. Tempat ini sering dikunjungi orang, terlihat dari sampah dan coret-coretan di dinding batu. Dari pantai ini kita bebas memandang gugusan karang-karang lepas pantai yang membentuk pulau-pulau kecil. Di seberang nampak pulau Ndana dengan pasir putih. Lautnya jernih, banyak orang sibuk menanam rumput laut. Di sekitar teluk batu pintu ini ada banyak vila, milik orang-orang bule. Ada satu villa yang sedang dalam pengerjaan. Di Pantai batu pintu ini kami berjalan-jalan menyusuri lepas pantai yang sedang surut, melihat-lihat karang dan berjalan dari “pulau” ke “pulau” bebatuan. Sementara lainnya menyiapkan lauk untuk makan siang, ayam dan ikan bakar.

DSC_0424

Batu Pintu

DSC_0436

Berjalan dari “pulau” ke “pulau”

Untuk makan siang, kami mencari tempat yang “lebih romantis”. Kebetulan penjaga villa, bakal villa tepatnya, di atas bukit ada seorang kenalan. Maka kami meminta izin untuk melihat-lihat dari atas bukit sekaligus menikmati makan siang di sana. Sebuah jalan berkelok ke puncak bukit batu. Dan di atas sana pemandangan seputar teluk Oeseli terpapar jelas. Jalan naik ini baru saja dikerjakan, termasuk pengerjaan saluran air. Sungguh pilihan spot yang tepat. Persis dari sini, saya membayangkan, orang bisa menikmati sunrise pantai, kemudian menunggu hingga sunset, pada satu titik pandang. Sayang, tempat ini bakal menjadi milik orang tertentu. Dan dengan model pembangunan seperti ini, akan sangat mahal sekali, bagi orang biasa untuk memiliki akses ke tempat ini. Sudahlah. Masih banyak spot lain di Rote Barat. Tapi sayangnya, hampir setiap “pojok indah” di tepi pantai ini telah dibeli oleh orang-orang bule.

DSC_0466

Model dan Latar…

Dari Oeseli kami menuju ke Bo’a. Konon di sini ada tempat selancar paling favorit. Menyusur desa Bo’a serasa berada di lukisan-lukisan kepulauan pasifik. Khas, nyiur menghijau, pasir putih, lambaian ombak. Very exciting!

DSC_0507

Tiang-tiang bakal rumah penginapan

DSC_0528

Sunse Pantai Bo’a

Sebuah lapangan luas di tepi pantai. Beberapa tiang beton berdiri kokoh, bakal rumah penginapan, kata orang. Debur ombak pantai Bo’a bergelora. Ini tempat selancar favorit selain pantai Nemberala. Ombaknya besar, bergulung-gulung. Di sebelah halaman luas ini ada sebuah bukit, penuh dengan vila-vila. Rumah-rumah cantik di atas bukit itu rata-rata punya balkon menghadap ke arah matahari terbenam. Untuk pemandangan senja terbaik, tentu. Di panta Bo;a ini kami sempat menikmati sunset yang indah, sebelum akhirnya kami pulang ke Ba’a lewat nemberala. Oia, saya tidak sempat ke pantai Nemberala, tapi sudahlah, Nemberala sudah terlalu mainstream untuk wisata pantai pulau Rote.

Sebelum beranjak pulang ke Kupang, kami jalan-jalan ke Pantai Tiang Bendera dekat kota Ba’a. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar sepuluh menit. Di pantai ini terdapat sebuah tiang beton di atas karang, konon dibuat oleh kompeni belanda untuk mengibarkan Bendera tanda wilayah Rote masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda. Saat air surut, kita bisa mencapai karang tempat tiang bendera tersebut, namun pagi hari saat kami ke sana, air sedang pasang, sehingga hanya bisa mengambil gambar dari jauh. Dari sini, pemandangan ke kota Ba’a terpapar jelas. Terdapat beberapa lopo untuk mengaso, tak ada penjaga di sini. Masuk gratis. Pantainya sedikit kotor, mungkin karena terlalu dekat dengan kota.

DSC_0598

Pantai Tiang Bendera

Sore harinya kami pulang ke Kupang. Rote dengan wisata pantainya tetap akan menjadi daya tarik wisatawan sepanjang masa, asalkan aset-aset tersebut dikelola dan dipelihara dengan baik. Sekian cerita dari kawasan terselatan Indonesia.***

Tiilangga: Topi Cowboy dari Ujung Selatan Indonesia

Me and the Tiilangga

Perayaan pesta keluarga Seminari Tinggi Santu Mikhael Kupang dan Pesta Perak Imamat RD Valens Boy berlangsung meriah. Yang unik dalam perayaan ini adalah ketika seluruh anggota komunitas dan para imam konselebran mengenakan pakaian tradisional daerah masing-masing. Yubilaris Romo Valens tampil dengan busana panglima perang Biboki, lengkap dengan pedang di pinggang. Hampir seluruh etnis di Nusa tenggara Timur terwakilkan dalam malam perayaan ini. Plus asesoris tradisional dari papua yang dipakai oleh frater yang pernah menjalankan tugas pastoralnya di Keuskupan Merauke.

Corak perayaan seperti ini menegaskan betapa eratnya hubungan iman dan kebudayaan. Ada asumsi teologis bahwa misteri inkarnasi justru adalah sebuah usaha inkulturasi antara “budaya” Tuhan dan “budaya” manusia. Kebudayaan manusiawi hendak diresapi oleh nilai-nilai Injil demi kebaikan dan kebahagiaan  manusia itu sendiri.

Saya sendiri meskipun bukan kelahiran Rote, pulau terselatan Indonesia itu, bahkan belum sekalipun menginjakkan kaki di tanah Rote, mencoba mengenakan pakaian tradisional dari Rote, lengkapa dengan topi “cowboy”nya: tiilangga. Sebenarnya saya ingin tahu bagaimana “rasanya” mengenakan topi tradisional yang kesohor itu. Beruntung, sebuah keluarga kenalan saya mau meminjamkan pakaian tradisional tersebut. Hasilnya, banyak teman yang meminta difoto juga dengan mengenakan topi tradisional tersebut.

Meskipun saya belum sempat mewawancarai beberapa orang Rote sendiri perihal topi tradisional tersebut, namun beberapa tulisan yang saya baca menjelaskan sedikit tentang topi kesohor itu.

Tiilangga adalah topi tradisional dari anyaman daun lontar,  berbentuk melingkar dengan sebuah tanduk kecil berdiri tegak di atasnya. Tanduk ini sering disebut pula dengan istilah antena. Antena ini terdiri dari anyaman bertingkat Sembilan. . Ada filosofi di balik rancangannya teramat dalam dan menarik. Kesembilan lekukan pada antena yang menancap diartikan sebagai sembilan strata dalam pemerintahan yang berkuasa di Rote pada masa silam.

Strata social dimulai dari golongan masyarakat biasa yang mereka lambangkan dengan lekukan terkecil di paling atas. Sementara raja atau kepala pemerintahan disimbolkan pada lekukan yang lebih besar, di bagian dasar topi.

Lekukan melingkar menyimbolkan dukungan mereka terhadap segala kebijakan atau peraturan yang dikeluarkan raja atau pemerintah yang berkuasa. Ini pun ditegaskan dengan bentuk antena yang tegak, sebagai simbol kepemimpinan.

Seperti topi umumnya, makna dari topi tradisional ini adalah sama yaitu sebagai penutup kepala bagi lelaki dari Pulau Rote. Tiilangga juga diyakini mampu mengubah tampilan mereka menjadi lebih gagah. Sejak dulu sampai sekarang, Tiilangga tetap dikenakan oleh para lelaki dari semua kalangan.  Saat mereka menghadiri acara adat, menghadiri acara di kantor pemerintahan, tampil menari di upacara, Tiilangga menempel di kepala termasuk saat mereka hendak pergi ke kebun atau sawah.

Bandingkan dengan topi “cowboy” dari Texas🙂

Cowboys

%d blogger menyukai ini: